Fakta Mencengangkan dari Burung Pelatuk si Woodpecker
- 26 Jul 2024 21:58 WIB
- Semarang
KBRN, Semarang: Burung pelatuk mempunyai warna bulu bervariasi indah antara hitam, putih, coklat, merah, kuning, oranye, hijau, dan keemasan. Warna-warna yang lebih cerah cenderung lebih umum dijumpai pada spesies burung pelatuk di wilayah tropis.
Memiliki kaki zigodaktil yakni kaki dengan dua jari kaki mengarah ke depan dan dua lainnya ke belakang. Kaki ini, dengan cakarnya yang tebal dan bulu ekor yang kaku, merupakan ciri yang membantu burung pelatuk untuk menjepit dan mencengkeram batang pohon dalam posisi vertikal.
Sifat burung pelatuk yang paling membedakan dengan burung lain ialah kegemarannya mematuk atau mengetuk-ngetuk, pohon. Gerakan mematuk-matuk dilakukan untuk mendapat makanan, menarik perhatian pasangan, menetapkan wilayah, dan berkomunikasi secara umum.
Paruh burung ini memiliki ujung yang tajam seperti alat pahat yang secara alamiah tetap terjaga ketajamannya karena kegemarannya mematuk. Ia bisa mematuk hingga 20 kali per detik atau 8.000 hingga 12.000 ketukan per hari.
Akan tetapi burung ini tidak merasa terganggu akibat patukan cepat yang dilakukan, karena tempurung kepalanya yang keras memiliki struktur sedemikian rupa sehingga bisa menyebarkan daya tumbuk ketukan. Serta otak dengan penyangga yang sangat baik sehingga mampu melindungi bagian tubuh tersebut dari dampak tumbukan yang berulang-ulang akibat sering mematuk.
Burung yang mempunyai nama lain woodpecker ini biasanya memakan serangga dan satwa invertebrata yang hidup di batang kayu. Semut, rayap, kumbang, ulat, laba-laba, satwa pengerat berukuran kecil yang mereka peroleh dari pohon.
Burung pelatuk juga bisa makan buah-buahan, kacang-kacangan dan getah pohon. Inilah saatnya ketika lidah mereka yang panjang dan tajam akan berguna, karena memudahkan mereka menyesap getah dan serangga.
Burung pelatuk juga bersarang di lubang/celukan pada pohon, baik di batang pohon atau di dahan. Kadang, sarang yang tidak dipakai kemudian digunakan oleh spesies satwa liar lain sebagai rumah atau sarang.
Seperti halnya anggota famili Picidae lainnya, burung pelatuk biasanya adalah satwa monogami: sepasang burung pelatuk akan bekerja sama membangun sarang mereka, mengerami telur, dan membesarkan anak burung.
Dalam sekali bertelur biasanya terdapat dua hingga lima butir telur yang akan dierami selama sekitar dua minggu hingga menetas. Diperlukan waktu sekitar 18 sampai 30 hari sebelum anak burung siap meninggalkan sarang dan mengurus dirinya sendiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....