Mengenal Mangupa Boru, Tradisi Batak Angkola bagi Pengantin
- 17 Feb 2025 17:41 WIB
- Semarang
KBRN, Semarang: Salah satu tradisi penting dalam masyarakat Batak Angkola adalah upacara Mangupa Boru yang dilakukan pada pesta pernikahan. Tradisi ini memiliki nilai-nilai budaya dan sosial yang mendalam, serta mengandung berbagai simbolisme yang kaya akan makna.
Tradisi Mangupa Boru merupakan salah satu upacara adat Batak Angkola untuk memberkati dan memberikan doa restu kepada pasangan pengantin. Upacara ini biasanya dilakukan oleh keluarga pengantin perempuan dan melibatkan berbagai ritual yang penuh simbolisme.
Dalam upacara ini, terdapat berbagai elemen yang penting. Seperti pemberian makanan adat, doa-doa adat, serta simbol-simbol lainnya yang diyakini dapat membawa keberuntungan dan kesejahteraan bagi pasangan pengantin.
Menurut Binsar Siregar, upacara ini juga merupakan bentuk penghormatan terhadap leluhur dan tradisi yang telah diwariskan. Pernikahan adalah salah satu ritual yang paling sakral dan berharga dalam kehidupan masyarakat Batak Angkola.
Pernikahan dianggap sebagai salah satu cara Tuhan untuk memperlihatkan cinta dan kasih sayang-Nya kepada manusia. Selain untuk menunjukkan cinta Allah Swt kepada manusia, juga sebagai salah satu cara untuk memperlihatkan cinta dan kasih sayang antara suami dan istri.
Dosen STISIP WIDURI Jakarta itu menambahkan bahwa dalam tradisi pernikahan Batak Angkola, Mangupa Boru memiliki makna sebagai salah satu rangkaian acara yang paling sakral dan berharga.
Proses itu dilakukan sebagai salah satu cara untuk memperlihatkan cinta dan kasih sayang antara suami dan istri. Serta sebagai salah satu cara untuk memperlihatkan cinta dan kasih sayang Allah SWT kepada manusia.
Budaya mempunyai nilai integral dalam kehidupan masyarakat yang mempunyai nilai tidak dapat dihilangkan. Karena menjadi salah pendukung kehidupan masyarakat baik secara moral, etika dan bertahan hidup.
Setiap budaya mempunyai sejarah dalam komunitas adat dan mempunyai perangkat yang mengikat. Mangupa memiliki makna simbolik yang penting dalam kehidupan masyarakat Batak Angkola dan memiliki fungsi sebagai ritual.
Berfungsi untuk menetapkan kebijaksanaan tradisional yang diperlukan oleh sepasang pengantin untuk membina rumah tangga bahagia menurut konsep masyarakat Batak Angkola. Tradisi Mangupa Adat Batak Angkola memiliki sejarah yang panjang dan telah menjadi bagian integral dari kebudayaan masyarakat.
Simbol-simbol yang digunakan dalam upacara Mangupa seperti pira manuk na nihobolan, manuk (ayam), horbo (kerbau), udang, ikan mas. Bulung pisang (daun pisang), burangir sampe-sampe (daun sirih), indahan (nasi putih), ulos (kain adat/kapas), anduri (tampi bambu).
Gambir, pining (pinang), amak lappisan (tikar pandan berlapis), dan bahan-bahan pangupa yang berasal dari alam seperti air putih dan garam (sira) memiliki makna sebagai simbol yang digunakan pada kehidupan.
Bahan-bahan pangupa ini digunakan sebagai perangkat pangupa dan memiliki makna sebagai simbol yang digunakan pada kehidupan. Alur proses Mangupa dalam upacara adat pernikahan suku Batak Angkola dimulai dengan mandok hata dari orang kaya.
Lalu ibu mempelai laki-laki dan suhut sihabolonan, ayah mempelai laki-laki dan kahanggi, mora dongan, Pisang rahut. Dihadirkan pula hatobangan, alim ulama, dan unsur pemerintahan, dan kemudian dibalas oleh para kerabat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....