Klappertaart: antara Kenangan Kolonialisme dan Lezatnya Sebuah Rasa
- 27 Jun 2026 13:56 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Penjajahan Belanda di bumi nusantara tak hanya meninggalkan pilu dan banyak pengaruh dalam berbagai hal. Pengaruh Belanda bahkan tercermin pada beberapa makanan khas beberapa daerah, salah satunya Klappertaart.
Klappertaart merupakan makanan penutup khas Manando dengan teksturnya yang lembut dan kaya citarasa. Nama Klapertaart sendiri berasal dari bahasa Belanda, yaitu "klapper" yang berarti kelapa dan "taart" yang berarti kue.
Klappertaart merupakan bukti sejarah begiu kuatnya pengaruh kolonial Belanda di Indonesia terkhusus di Sulawesi Utara. Makanan ini merupakan hasil perpaduan budaya Eropa dengan budaya lokal utamanya pada bahan-bahan lokal Sulawesi Utara yang melimpah seperti kelapa muda.
Dahulu Klappertaart sering disajikan pada acara keluarga, perayaan, ataupun jamuan resmi. Lambat laun makanan ini menjadi semakin populer dan hingga kini menjadi sala satu ikon kuliner yang banyak dicari wisatawan ktika berkunjung ke Manado.
Klappertaart terbuat dari campuran daging kelapa muda, susu, mentega, tepung, gula dan juga telur. Ada juga yang menambahkan kismis, kayu manis, keju, atau kacang kenari sebagai variasi untuk memperkaya tekstur dan juga rasanya.
Proses pembuatannya diawali dengan mencampurkan susu, gula, tepung, dan kuning telur hinga menjai adonan yang kental dan halus. Berikutnya adalah memasukkan daging kelapa muda ke dalam adonan sebelum dipanggang atau didinginkan sesuai jenis Klappertaart yang dikehendaki.
Setelah matang, Klappertaart biasanya diberi topping putih telur kocok, taburan kayu manis, atau irisan kacang. Klappertaart akan terasa lebih nikmat dan segar jika disajikan dalam kondisi dingin.
Citarasa yang unik dan langka membuat Klappertaart banyak divcari dan digemari orang. Dari makanan percampuran dua budaya, Klappertaart kini menjadi salah satu hidangan unik yang bertahan lama hingga sekarang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....