Kisah Uap dan Gula Aren Dimana Rasa Menemukan Rumahnya

  • 03 Jun 2026 16:37 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Kuliner tradisional Indonesia selalu memiliki cerita tersendiri di balik kelezatan dari bau dan rasanya yang khas. Salah satu warisan kuliner yang hingga kini masih eksis serta dicintai oleh berbagai generasi adalah kue putu bambu.

Nama "bambu" sendiri diambil dari cetakan yang digunakan, yaitu potongan bambu kecil yang berfungsi membentuk adonan tepung beras. Adonan tersebut dimasukkan ke dalam bambu secara bertahap bersama dengan isian gula merah sisir di tengahnya, lalu dikukus di atas uap panas yang keluar dari cerobong kecil penanaknya.

Jajanan pasar ini menyajikan perpaduan visual yang sederhana namun sangat menggugah selera. Kue putu bambu bukan sekadar makanan ringan, melainkan sebuah mahakarya dari proses pembuatan yang unik dan tradisional.

Kue berbentuk tabung berwarna putih bersih ini tampak begitu menggoda dengan taburan parutan kelapa di atasnya. Salah satu ciri khas yang paling melekat dari penjual kue putu tradisional adalah suara peluit uapnya yang melengking.

Suara unik ini dihasilkan dari tekanan uap saat proses pengukusan kue, yang sekaligus berfungsi sebagai "iklan berjalan" untuk memanggil para pembeli. Bagi masyarakat Indonesia, mendengar suara khas ini di sore atau malam hari sering kali memicu rasa lapar sekaligus menghadirkan nuansa nostalgia masa kecil yang hangat.

kelezatan kue putu ini terletak pada keseimbangan rasa dan teksturnya. Tekstur kue yang terbuat dari tepung beras cenderung lembut namun sedikit renyah saat digigit. Ketika dikunyah, lelehan gula merah yang ada di bagian dalam akan langsung lumer di mulut, memberikan kombinasi rasa manis karamel yang pekat dan legit.

Untuk menyeimbangkan rasa manis yang kuat dari gula merah tersebut, kue putu selalu disajikan dengan taburan parutan kelapa tua yang melimpah. Parutan kelapa ini biasanya diberi sedikit garam saat dipersiapkan, sehingga menghasilkan rasa gurih yang kontras namun serasi. Kombinasi antara gurihnya kelapa, manisnya gula Jawa, dan aroma harum dari adonan tepung membuat setiap gigitan terasa begitu kaya.

Menikmati seporsi kue putu hangat bukan hanya sekadar memanjakan lidah, melainkan juga bentuk apresiasi terhadap para pedagang tradisional yang tetap setia melestarikan resep leluhur. Kue putu akan selalu memiliki tempat istimewa di hati masyarakat sebagai simbol kelezatan yang tak lekang oleh waktu.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....