Jenang Upih, Kuliner Tradisional Yogyakarta Sesuai Pasaran

  • 18 Mei 2026 10:36 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Saat ini semakin banyak jajanan tradisional yang kembali “tampil” berkat media sosial yang masif. Banyak influencer yang kemudian membuat konten tentang kuliner tradisional, seolah mengajak masyarakat untuk bernostalgia.

Jenang upih, atau ada juga yang menyebutnya jenang upeh adalah salah satunya. Jajanan tradisional khas Yogyakarta ini memang tidak lagi banyak ditemui tapi “ngangeni”.

Salah satu tempat yang sampai sekarang masih ada penjual jenang upih adalah Pasar Ngino, Banyuurip, Margoagung, Seyegan, Sleman. Sayangnya tidak berjualan setiap hari, melainkan buka hanya sesuai pasaran Jawa yakni wage dan legi.

Banyak yang penasaran apa itu jenang upih dan bagaimana rasanya? Jenang upih merupakan jajanan tradisioanl yang berbahan dasar tepung beras, santan dan garam.

Dari komposisinya, sudah bisa terbayang rasa jenang upih yang gurih. Mirip dengan bubur atau jenang sumsum, hanya saja versi padat sehingga bisa diiris mirip gendar.

Tekstur padat ini diperoleh dari jenang upih yang dicetak atau dibungkus dengan pelepah pohon pinang. Nama “upih” ini juga berasal dari pelepah pohon pinang atau jambe.

Dalam satu porsi, jenang upih biasanya disajikan dengan tahu dan tempe bacem. Rasa gurih jenang upih berpadu dengan manis bacem, kombinasi yang pas untuk sarapan.

Harganya cukup terjangkau, satu porsi jenang upih dan bacem sekitar 5.000 sampai 10.000 rupiah tergantung dari banyaknya. Selain Pasar Ngino, jenang upih juga masih dapat ditemukan di Pasar Godean, Pasar Kranggan dan Sentra Produksi Cibuk Kidul.

Tapi jangan terlalu siang untuk membelinya, karena jenang upih buka mulai pukul 05.30 pagi dan langsung diserbu pembeli. Yuk cicipi jenang upih, dijamin bakal ketagihan dengan kuliner tradisional khas Yogyakarta yang satu ini.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....