Asal Usul Ramen Favorite Semua Kalangan

  • 07 Mei 2026 09:32 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Mi instan menjadi salah satu makanan paling populer di dunia dengan konsumsi global yang mencapai lebih dari 100 miliar porsi setiap tahun. Popularitas ini didorong oleh harga yang terjangkau, kemudahan penyajian, serta kondisi ekonomi global yang masih menekan daya beli masyarakat.

Cikal bakal ramen di Jepang bermula pada 1910, ketika Ozaki Kan’ichi membuka restoran Rai-Rai Ken di kawasan pekerja Asakusa, Tokyo. Hidangan yang saat itu dikenal sebagai chūka soba merupakan adaptasi masakan Cina berupa mi gandum tipis berkuah.

Seiring urbanisasi Jepang dari desa ke kota, ramen berkembang menjadi makanan terjangkau bagi pekerja dan pelajar. Kehadirannya mencerminkan perubahan pola hidup masyarakat perkotaan yang membutuhkan makanan cepat, mengenyangkan, dan mudah dijangkau.

Situasi berubah drastis pasca-Perang Dunia II. Ketika Jepang mengalami krisis pangan akibat kelangkaan beras dan pembatasan aktivitas perdagangan.

Gandum impor dari Amerika Serikat banyak beredar di pasar gelap, sementara mi dijual secara ilegal. Hal ini memunculkan inspirasi bagi Momofuku Ando untuk menciptakan solusi makanan praktis yang bisa dibuat di rumah.

Melalui eksperimen di gudang belakang rumahnya, ia menemukan teknik menggoreng mi untuk menghilangkan kadar air sehingga lebih awet dan mudah disajikan. Pada 25 Agustus 1958, Instant Cook Chikin Ramen diluncurkan, kemudian berkembang menjadi Cup Noodles pada 1971, menandai lahirnya mi instan modern.

Di Jepang, mi instan dipandang sebagai salah satu penemuan penting abad ke-20. Bahkan memiliki museum khusus.

Secara global, ramen instan menjadi fenomena budaya dengan konsumsi tinggi di Asia. Bahkan digunakan sebagai alat tukar informal di penjara Amerika Serikat, serta dijadikan indikator ekonomi di Thailand.

Perjalanan panjang ramen menunjukkan bahwa mi instan bukan sekadar makanan murah dan praktis. Ini merupakan hasil dari inovasi teknologi, dinamika sosial, dan krisis pangan yang menjadikannya simbol ketahanan pangan lintas generasi dan budaya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....