Anak Laki-Laki Lebih Rentan Terkena Buta Warna
- 29 Sep 2026 16:46 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang – Buta warna merupakan kondisi yang dapat bersifat bawaan sejak lahir maupun didapat kemudian karena menderita penyakit tertentu. Untuk kasus bawaan, yang sifatnya genetic kebanyakan terjadi pada anak laki-laki
Hal tersebut disampaikan Dokter Spesialis Mata Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang, Dokter Atik Rahmawati Spesialis Mata Anak dalam Program Ruang Sehat Pro 4 RRI Semarang, Jumat 25 September 2026. Kondisi ini disebabkan oleh disfungsi pada sel kerucut (fotoreseptor) atau sel penerima cahaya di retina mata yang mengalami kekurangan atau bahkan tidak memiliki sel pigmen peka terhadap panjang gelombang tertentu.
“ Manifestasi buta warna bawaan ini kebanyakan terjadi pada anak laki-laki karena menempel pada kromosom X”. “Sementara anak perempuan terkadang tidak bermanifestasi menjadi buta warna namun dapat mewariskannya”, ujar Atik melalui sambungan telepon.
Sebaliknya, buta warna yang didapat (dapatan) biasanya berkaitan dengan kondisi seperti katarak, kekeruhan pada lensa mata, atau gangguan saraf optik mata. "Kemungkinan bisa disembuhkan sekalian berkaitan dengan kondisi penyakit yang mendasari", tambahnya.
Terkait solusi penyembuhan, hingga saat ini belum ditemukan obat atau terapi yang dapat mengubah kondisi buta warna bawaan karena berkaitan erat dengan genetika. Meskipun demikian, terdapat beberapa alat bantu seperti kacamata khusus atau aplikasi tertentu yang dapat membantu penderita.
Perlu diluruskan pula bahwa penderita buta warna bukanlah berarti sama sekali tidak bisa melihat warna. Kebanyakan penderita mengalami buta warna sebagian atau parsial, di mana mereka kesulitan membedakan warna-warna tertentu seperti hijau muda, merah-hijau, hingga biru-kuning
Selain buta warna, kesehatan mata anak secara umum mencakup tiga fungsi penting, yakni ketajaman penglihatan (fokus objek jauh dan dekat), serta lapang pandang. Perkembangan penglihatan anak dimulai dari bayi baru lahir hingga mencapai kematangan penuh layaknya orang dewasa pada usia sekitar lima hingga tujuh tahun.
Orang tua perlu lebih waspada dan peka mengamati perkembangan ini, mengingat anak-anak terkadang tidak menyadari atau tidak mengeluhkan gangguan penglihatan yang mereka alami. Pemeriksaan kesehatan mata anak dapat dilakukan secara mandiri oleh orang tua dengan mengamati perkembangan fisik, koordinasi gerak, serta respons anak terhadap lingkungan sekitar.
Beberapa tanda kelainan yang mudah dikenali seperti adanya pupil putih di tengah mata atau kondisi juling. Lebih lanjut, deteksi dini oleh orang tua maupun guru di sekolah sangat dianjurkan sebelum anak memasuki masa sekolah agar penanganan dapat dilakukan lebih awal.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....