Gunung Anak Krakatau Erupsi, Waspadai Dampak Abu Vulkanik bagi Kesehatan

  • 08 Sep 2026 08:44 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali menjadi perhatian setelah gunung api tersebut mengalami episode erupsi menerus selama sekitar 25 jam pada 4–6 September 2026. Dikutip dari laman Badan Geologi Kementerian ESDM, aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga, dengan potensi bahaya antara lain lontaran batu pijar dan hujan abu lebat.

Hingga evaluasi 7 September 2026, Badan Geologi menyatakan status Gunung Anak Krakatau tetap Level III (Siaga) dan merekomendasikan masyarakat tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas gunung api. Masyarakat di sekitar kawasan Anak Krakatau juga diminta mengikuti informasi resmi dari pemerintah.

Paparan abu vulkanik perlu diwaspadai karena partikel yang terbawa udara dapat masuk ke saluran pernapasan, terutama ketika masyarakat melakukan aktivitas di luar ruangan. Oleh karena itu, masyarakat di wilayah terdampak dianjurkan mengurangi aktivitas di luar rumah atau menggunakan masker untuk menghindari gangguan pernapasan, sesuai rekomendasi Badan Geologi.

Secara umum, dampak abu vulkanik terhadap kesehatan sangat dipengaruhi ukuran partikel, kandungan mineral, serta lamanya seseorang terpapar. Penelitian Gunnar Gudmundsson yang diterbitkan dalam Clinical Respiratory Journal menjelaskan bahwa paparan abu vulkanik dapat menimbulkan iritasi hidung dan tenggorokan, batuk, sesak napas, serta memperburuk kondisi seperti asma dan bronkitis.

Risiko tersebut juga diperkuat oleh kajian Claire J. Horwell dan Peter J. Baxter dalam Bulletin of Volcanology. Kajian tersebut menunjukkan bahwa partikel abu berukuran sangat halus lebih mudah masuk ke bagian dalam paru-paru, sementara orang yang telah memiliki penyakit pernapasan dapat mengalami perburukan gejala setelah terpapar abu vulkanik.

Selain saluran pernapasan, mata juga dapat mengalami gangguan akibat paparan abu. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut letusan gunung api dapat menimbulkan iritasi pada mata, kulit, serta gangguan pernapasan akibat abu dan gas vulkanik.

Kajian terbaru yang diterbitkan Frontiers in Public Health pada 2025 juga menemukan bahwa paparan material vulkanik berkaitan dengan berbagai gangguan kesehatan, antara lain gejala pernapasan, konjungtivitis, dan dermatitis. Kelompok rentan seperti anak-anak dan lanjut usia juga dapat menghadapi risiko yang lebih besar.

Masyarakat yang terdampak hujan abu sebaiknya membatasi aktivitas di luar ruangan. Jika harus keluar, gunakan masker yang menutup hidung dan mulut dengan baik serta perlindungan mata untuk mengurangi kontak langsung dengan partikel abu. Anjuran tersebut sejalan dengan rekomendasi Badan Geologi bagi masyarakat yang terdampak abu vulkanik Anak Krakatau)

Di dalam rumah, pintu dan jendela dapat ditutup untuk mengurangi masuknya abu dari luar. Masyarakat juga perlu memperhatikan kondisi kesehatan, terutama jika muncul keluhan seperti batuk terus-menerus, sesak napas, nyeri dada, atau iritasi mata yang semakin berat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....