PKM-RE UNDIP Kembangkan Nanoturiku Dukung Otot Lansia
- 27 Agt 2026 13:45 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Penurunan massa dan fungsi otot menjadi salah satu permasalahan yang kerap dihadapi lansia. Kondisi tersebut dikenal sebagai sarkopenia dan dapat mengganggu kemampuan lansia menjalankan aktivitas sehari-hari secara mandiri.
Menurut penelitian Yuan dan Larsson tahun 2023, persentase lansia yang mengalami sarkopenia mencapai sekitar 10-16% secara global. Sementara itu, persentase lansia yang mengalami sarkopenia di Indonesia mencapai 17,6% berdasarkan penelitian Harimurti dan rekan tahun 2023.
Permasalahan tersebut dapat dipengaruhi rendahnya asupan protein serta peradangan yang berlangsung selama proses penuaan. Kondisi tersebut mendorong perlunya inovasi yang dapat mendukung pemeliharaan kesehatan otot lansia.
Melihat permasalahan tersebut, Tim Nanoturiku PKM-RE UNDIP mengembangkan Nanoturiku sebagai inovasi berbasis bahan alam. Penelitian yang dilaksanakan pada Juni hingga Agustus 2026 ini berfokus pada pengembangan produk inovatif berbahan alam yang berpotensi mendukung kesehatan otot lansia.
Nanoturiku dikembangkan melalui kolaborasi lintas program studi. Tim pengembang terdiri atas Anisa Hanin dan Salma Feriska dari Program Studi S1 Kedokteran, Trias Sahliarini dari S1 Gizi, Ilma Helmia dari S1 Teknik Kimia, serta Dimas Sugi dari S1 Teknologi Pangan.
Penelitian tersebut berada di bawah bimbingan Widyaningrum Utami, S.Farm., Apt., M.Clin. Pharm. Kolaborasi lintas bidang tersebut mendukung pengembangan Nanoturiku dari aspek bahan, formulasi, pangan, hingga pengujian biologis.
Nanoturiku memanfaatkan daun turi dan herba kancing ungu. Daun turi dimanfaatkan sebagai sumber protein nabati, sedangkan kancing ungu menjadi sumber senyawa flavonoid.
Pengembangan Nanoturiku menggabungkan sumber protein nabati dan senyawa flavonoid melalui teknologi nano. Pendekatan tersebut memungkinkan kedua komponen diformulasikan dalam satu sistem nanoemulsi berukuran sangat kecil.
Penelitian diawali dengan preparasi dan isolasi protein dari daun turi. Tahap berikutnya meliputi ekstraksi flavonoid herba kancing ungu serta pembuatan formulasi nanoemulsi.
Proses isolasi, ekstraksi, dan formulasi dilakukan di Laboratorium Teknologi Proses Teknik Kimia UNDIP. Evaluasi karakteristik produk juga dilakukan melalui Laboratorium Teknologi Pangan, Laboratorium Gizi, dan Laboratorium Terpadu UNDIP.
Tahapan penelitian kemudian dilanjutkan dengan pengujian efek nanoemulsi terhadap sel otot secara in vitro. Pengujian tersebut dilakukan di Laboratorium Parasitologi FK-KMK Universitas Gadjah Mada untuk melihat respons pertumbuhan sel.
Hasil pengujian menunjukkan adanya dampak positif terhadap pertumbuhan sel otot dalam kondisi penelitian. Temuan tersebut menunjukkan potensi Nanoturiku untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai kandidat pendukung kesehatan otot.
Melalui penelitian ini, tim Nanoturiku PKM-RE UNDIP berupaya mengembangkan potensi tanaman lokal menjadi inovasi kesehatan berbasis teknologi. Nanoturiku diharapkan dapat menjadi langkah awal pengembangan kandidat suplemen berbahan alam untuk mendukung kesehatan otot lansia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....