Trauma Healing Korban Bencana Tak Cukup dengan Bermain, Anak Perlu Merasa Aman

  • 19 Agt 2026 15:54 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Pendampingan psikologis bagi anak korban bencana tidak cukup dilakukan melalui aktivitas bermain, menggambar, atau bernyanyi. Sebelum mengikuti kegiatan tersebut, anak perlu lebih dulu merasa aman, didengarkan, dan kembali terhubung dengan keluarga maupun lingkungan sosialnya.

Dosen Psikologi Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) sekaligus staf ahli bidang psikososial di Pusat Studi Bencana LPPM UNS, Dr. Farida Hidayati, S.Psi., M.Si., mengatakan istilah trauma healing perlu dipahami secara tepat. Hal itu diungkapkannya dalam wawancara bersama RRI, Rabu, 19 Agustus 2026.

Menurutnya, tidak semua penyintas bencana otomatis mengalami trauma psikologis sehingga penanganan awal lebih tepat diarahkan pada dukungan psikososial atau Psychological First Aid. “Seperti P3K, kalau ada orang mengalami kecelakaan dan terluka fisik, maka hal-hal untuk penanganan awal perlu kita lakukan,” ujarnya.

Farida menjelaskan, prinsip pertama dalam memberikan dukungan psikologis kepada korban bencana adalah memastikan kondisi mereka aman. Rasa aman menjadi dasar sebelum pendamping mengajak korban melakukan aktivitas lain.

Setelah merasa aman, korban perlu diberikan ruang untuk mengungkapkan emosi yang dirasakan. Perasaan takut, cemas, sedih, maupun bingung perlu diterima tanpa penghakiman dari pendamping.

“Jangan kita men-judge. Kita hanya perlu mengakui perasaannya, apa pun itu perasaannya, kita terima dulu,” katanya.

Menurut Farida, aktivitas seperti menggambar, bercerita, bermain, maupun doa bersama tetap dapat digunakan dalam proses pendampingan. Namun, kegiatan tersebut sebaiknya menjadi bagian dari proses pemulihan yang lebih menyeluruh, bukan sekadar sarana menghibur korban.

Bagi anak-anak, tahapan berikutnya adalah membangun kembali koneksi dengan lingkungan sosial. Hubungan dengan orang tua, guru, teman sebaya, dan lingkungan sekitar menjadi bagian penting dalam membantu anak kembali menjalankan aktivitas sehari-hari.

Farida juga mengingatkan agar korban yang kehilangan anggota keluarga tidak dipaksa untuk segera melupakan atau menerima keadaan. Setiap orang memiliki proses pemulihan yang berbeda sehingga pendamping perlu memberikan waktu dan ruang bagi korban.

Pendamping dapat membantu korban mengurai emosi secara perlahan, memahami rasa takut dan kecemasan yang muncul. Kemudian, mendampingi mereka menemukan kembali makna dari pengalaman yang telah dilalui.

Proses tersebut membutuhkan pendampingan yang berkelanjutan. Menurut Farida, kondisi psikologis korban tidak selalu dapat diketahui hanya dari satu kali kegiatan atau intervensi.

“Kalau trauma healing itu dijalankan dengan cepat, kita perlu menyusun langkah-langkah agar menemani itu lebih berkelanjutan. Tidak terputus,” katanya.

Perkembangan pemulihan pada anak juga dapat terlihat dari perubahan-perubahan kecil. Misalnya, anak mulai berani menggunakan warna yang lebih cerah ketika menggambar atau kembali berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya.

Oleh karena itu, keberhasilan pendampingan tidak semata-mata diukur dari seberapa meriah kegiatan trauma healing yang dilakukan. Indikator yang lebih penting adalah ketika korban secara bertahap merasa aman, mampu mengekspresikan emosi, kembali terhubung dengan lingkungan sosial, dan mulai menjalankan fungsi kehidupannya.

Dengan pendekatan tersebut, kegiatan pemulihan bagi anak korban bencana diharapkan tidak berhenti sebagai aktivitas sesaat. Dukungan psikososial yang tepat dan berkelanjutan dapat membantu korban melewati proses pemulihan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....