Silent Struggle, Perjuangan yang Tak Selalu Terlihat
- 13 Agt 2026 11:00 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Silent struggle menggambarkan perjuangan seseorang menghadapi tekanan, masalah, atau kesulitan secara diam-diam tanpa banyak bercerita kepada orang lain. Kondisi tersebut bisa terjadi ketika seseorang belum siap bercerita atau khawatir justru membebani orang-orang terdekat di sekitarnya saat ini.
Dalam kehidupan sehari-hari, silent struggle dapat dialami siapa saja, termasuk pelajar dan anak muda dalam berbagai situasi kehidupan. Tekanan sekolah, pertemanan, keluarga, prestasi, serta kekhawatiran masa depan dapat membuat seseorang merasa kewalahan meski tampak baik-baik saja.
Seseorang yang menghadapi silent struggle belum tentu menunjukkan tanda yang mudah dikenali oleh orang-orang di sekitarnya setiap hari. Mereka mungkin tetap bersekolah, bekerja, bercanda bersama teman, aktif bermedia sosial, dan menjalani rutinitas seperti biasanya setiap hari.
Salah satu alasan seseorang memilih diam adalah kekhawatiran terhadap penilaian atau respons dari orang lain di sekitarnya hingga kini. Mereka mungkin takut dianggap lemah, terlalu sensitif, mencari perhatian, atau khawatir ceritanya tidak akan dipahami oleh orang lain.
Di era media sosial, kondisi tersebut semakin sulit terlihat karena unggahan tidak selalu menggambarkan keadaan seseorang secara keseluruhan. Apa yang terlihat di layar biasanya hanya bagian kehidupan yang memang ingin dibagikan kepada orang lain secara keseluruhan.
Temuan Mental Health Foundation menunjukkan banyak anak muda masih kesulitan membicarakan persoalan emosional mereka kepada orang lain terdekat. Riset terhadap 2.522 anak muda usia 16 hingga 25 tahun menemukan hanya 54 persen mampu membicarakan emosinya.
Karena itu, penting membangun kebiasaan saling memperhatikan tanpa terburu-buru memberikan penilaian kepada orang-orang yang sedang menghadapi kesulitan bersama. Pertanyaan sederhana seperti “Kamu baik-baik saja?” atau “Kalau mau cerita, aku siap mendengarkan” dapat menjadi bentuk kepedulian berarti.
Namun, seseorang tidak harus memaksakan diri langsung menceritakan semuanya ketika belum merasa siap atau aman untuk berbicara saja. Berbicara perlahan kepada orang tepercaya, seperti orang tua, guru, sahabat, atau orang dewasa dapat menjadi langkah menghadapi masalah.
Pada akhirnya, silent struggle mengingatkan kita bahwa tidak semua perjuangan seseorang dapat terlihat dari luar oleh orang lain. Belajar peka, berani meminta bantuan, dan menciptakan ruang aman untuk bercerita penting dalam menjaga kesejahteraan bersama setiap hari.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....