Cotard Syndrome, Gangguan Langka yang Pengaruhi Persepsi Diri

  • 22 Jul 2026 09:00 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Cotard Syndrome merupakan gangguan neuropsikiatri langka yang memengaruhi cara seseorang memandang keberadaan dirinya secara ekstrem dan keliru. Penderitanya dapat meyakini dirinya telah meninggal, kehilangan organ tubuh, atau bahkan merasa dirinya sudah tidak benar-benar ada.

Sindrom tersebut pertama kali dijelaskan oleh dokter saraf Prancis bernama Jules Cotard pada tahun seribu delapan ratus delapan puluh. Ia menemukan pasien yang percaya tubuhnya telah kehilangan organ sehingga menolak makan karena merasa sudah tidak membutuhkan kehidupan.

Menurut laman Cleveland Clinic, Cotard Syndrome umumnya muncul bersamaan dengan gangguan kesehatan mental maupun gangguan neurologis tertentu lainnya. Kondisi tersebut sering dikaitkan dengan depresi berat, skizofrenia, gangguan bipolar, demensia, maupun cedera otak yang serius.

Penyebab pasti Cotard Syndrome hingga sekarang belum diketahui secara menyeluruh oleh para peneliti dari berbagai negara di dunia. Sejumlah penelitian menduga gangguan ini berkaitan dengan perubahan fungsi otak yang mengatur emosi, pengenalan diri, serta persepsi realitas.

Gejala Cotard Syndrome dapat berkembang secara bertahap maupun muncul tiba-tiba tergantung kondisi kesehatan mental setiap penderitanya masing-masing. Beberapa penderita juga menarik diri dari lingkungan sosial karena merasa keberadaannya sudah tidak memiliki makna bagi kehidupan.

Keyakinan keliru tersebut dapat membuat penderita mengabaikan kebersihan tubuh, menolak makan, serta menghentikan pengobatan yang sebenarnya diperlukan. Apabila kondisi tersebut berlangsung lama, kesehatan fisik maupun mental penderita dapat mengalami penurunan yang cukup membahayakan keselamatan dirinya.

Penanganan Cotard Syndrome dilakukan dengan mengatasi gangguan utama melalui obat antidepresan, antipsikotik, maupun terapi kejiwaan secara menyeluruh. Pada kondisi tertentu, dokter juga dapat mempertimbangkan Electroconvulsive Therapy atau ECT apabila pengobatan sebelumnya belum memberikan perbaikan signifikan.

Meskipun sangat langka, Cotard Syndrome menunjukkan pentingnya mengenali gejala gangguan kesehatan mental sedini mungkin agar tertangani dengan baik. Berdasarkan penjelasan Cleveland Clinic, penanganan tepat mampu meningkatkan peluang pemulihan serta kualitas hidup penderita dalam jangka panjang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....