Paradigama Kedokteran Regeneratif, Kunci Masa Depan Kesehatan

  • 21 Jun 2026 12:31 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Dunia medis Indonesia saat ini sedang berada di persimpangan jalan menuju kemandirian teknologi. Seringkali, inovasi medis terbaru dianggap sebagai sesuatu yang mahal dan hanya bisa dilakukan oleh institusi besar di luar negeri.

Padahal, paradigma kedokteran regeneratif saat ini memungkinkan pasien untuk mengelola terapi sel autologus secara mandiri, langsung di tempat pelayanan pasien (point of care), baik itu di klinik rumah sakit maupun klinik utama di seluruh penjuru tanah air.

Direktur Utama RSI Sultan Agung, dr. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FISQU mengatakan kunci dari masa depan kesehatan ini terletak pada hal yang sangat mendasar. Dimana tubuh manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk memperbaiki dirinya sendiri.

“Salah satu mekanisme utamanya adalah melalui pelepasan eksosom dari trombosit. Bayangkan eksosom sebagai kurir mikroskopis yang membawa "paket kehidupan" berupa faktor pertumbuhan esensial, seperti VEGF sebagai arsitek pembangunan pembuluh darah baru, PDGF sebagai stimulator utama perbaikan sel, dan TGF-β sebagai penyeimbang peradangan serta pembentuk jaringan,” terangnya Minggi 21 Juni 2026.

Selain faktor tersebut, lanjut dai, eksosom juga membawa asam nukleat dan lipid yang bekerja secara sinergis. “Ketika dokter mampu mengolah ini di klinik, kita sebenarnya sedang memicu potensi penyembuhan alami pasien dengan presisi tinggi,” ucapnya.

Ia mengungkakan, hal tersbeut ini menjadi sangat penting bagi masyarakat dan tenaga medis umum. Karena ilmu kedokteran regeneratif kini menjadi lebih aplikatif.

“Dokter tidak lagi harus bergantung pada birokrasi yang panjang atau teknologi impor yang mahal. Dengan penguasaan kompetensi yang tepat, standar global bisa kita terapkan secara mandiri,” ujarnya.

Menurut dia, akses untuk belajar bidang ini sekarang sangat terbuka luas. Kedokteran regeneratif bukanlah ilmu yang eksklusif, melainkan bidang yang dapat dipelajari melalui berbagai jalur.

“Seperti program pelatihan intensif (hands-on), kolaborasi riset internasional. Hingga pendidikan berkelanjutan yang mengintegrasikan riset biomolekuler dalam praktik klinis sehari-hari,” katanya.

Ketika klinik-klinik di daerah mampu memberikan terapi sel autologus dengan standar yang terukur, pasien tidak hanya meningkatkan efisiensi biaya kesehatan, tetapi juga memberikan harapan baru bagi pasien. Ilmu kedokteran yang canggih haruslah membumi, dapat dipahami, dan bisa diakses oleh masyarakat luas.

“Mari kita jadikan Indonesia sebagai pusat kedokteran regeneratif yang mandiri. Dengan kompetensi dokter yang mumpuni dan semangat untuk terus belajar, masa depan kesehatan yang lebih baik ada di tangan kita sendiri,” tegasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....