Di Balik Senyum Azalea, Ada Perjuangan dan Harapan Bersama JKN

  • 12 Mei 2026 09:38 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Senyum dan tawa kecil Azalea Malika Khairuniswa kembali menghiasi rumah sederhana keluarganya di kawasan Gunungpati, Kota Semarang. Di balik wajah ceria bocah 6 tahun itu, tersimpan perjuangan panjang melawan leukimia selama dua tahun terakhir, ditemani keteguhan sang ibu, serta dukungan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Bagi Eva Setiawati (35), ibu Azalea, masa ketika putrinya divonis leukimia menjadi salah satu fase terberat dalam hidupnya. Ia masih mengingat jelas saat Azalea yang biasanya aktif dan jarang sakit, tiba-tiba mengalami demam tinggi berkepanjangan pada akhir September 2023.

“Azalea itu anaknya ceria, dari kecil jarang sakit. Tiba-tiba akhir September 2023 panas tinggi berhari-hari dan tidak mereda,” tutur Eva saat ditemui, Selasa, 12 Mei 2026.

Kekhawatiran mulai muncul ketika kondisi Azalea tak kunjung membaik dengan tubuh yang lemas dan pucat. Saat dibawa ke puskesmas, hasil pemeriksaan menunjukkan kadar hemoglobin (Hb) Azalea sangat rendah, hanya mencapai angka lima.

Azalea pun harus segera dirujuk ke RSUP Dr Kariadi Semarang untuk menjalani transfusi darah. “Setelah transfusi pertama sempat membaik, tapi tiga minggu kemudian kembali sakit dengan gejala yang sama,” ungkapnya.

Pemeriksaan lanjutan kemudian mengubah kehidupan keluarga kecil itu. Diagnosis leukimia dari dokter membuat Eva merasa dunianya runtuh. Sebagai seorang ibu rumah tangga, ia mengaku sulit menerima kenyataan bahwa anaknya harus menghadapi penyakit berat di usia yang masih sangat kecil.

“Saat tahu rasanya sedih sekali. Sebagai seorang ibu, hati rasanya hancur, tidak terbayang kenapa anak saya bisa terkena leukimia,” ujarnya lirih.

Sejak saat itu, rumah sakit menjadi bagian dari keseharian Azalea. Kemoterapi, transfusi darah, hingga pemeriksaan rutin harus dijalani.

Di tengah perjuangan tersebut, Eva mengaku bersyukur keluarganya terdaftar sebagai peserta JKN segmen Penerima Bantuan Iuran (PBI) melalui skema Universal Health Coverage (UHC) Pemerintah Kota Semarang. Menurut Eva, kehadiran JKN menjadi penopang harapan keluarganya di tengah keterbatasan ekonomi.

Sang suami yang bekerja dengan penghasilan tidak menentu sempat membuatnya cemas memikirkan biaya pengobatan leukimia yang tidak sedikit. “Dulu sempat was-was soal biaya pengobatan, jadi adanya BPJS Kesehatan dan UHC ini sangat membantu pengobatan anak saya,” katanya.

Selama menjalani pengobatan, Eva merasakan kemudahan layanan kesehatan mulai dari puskesmas hingga rumah sakit. Berbagai tindakan medis, obat-obatan, hingga kemoterapi dapat diakses melalui Program JKN tanpa kendala administrasi berarti.

“Alhamdulillah tidak pernah terkendala. Bahkan, pihak rumah sakit juga menyarankan menggunakan JKN karena biaya pengobatannya memang tidak sedikit,” ungkap Eva.

Kini, setelah dua tahun berjuang, kondisi Azalea perlahan membaik, dan tawa kecilnya kembali terdengar di rumah. Meski masih harus menjalani kemoterapi setiap enam minggu sekali, Eva memilih menatap masa depan dengan penuh harapan.

“Tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan rasa syukur saya. Saya hanya bisa berterima kasih kepada BPJS Kesehatan, Pemerintah Kota Semarang, dokter, perawat, dan semua peserta JKN," ucap Eva dengan mata berkaca-kaca.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....