Formula Tri-Sinergi Sel Autologus, Menaklukkan Sirosis Tanpa Transplantasi
- 04 Apr 2026 11:40 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Hati (hepar) merupakan organ paling tangguh sekaligus berperan sebagai penawar racun utama dan memiliki kapasitas regenerasi yang luar biasa di dalam tubuh manusia. Namun, jika organ ini diserang oleh infeksi, racun, atau gangguan aliran darah secara terus menerus, jaringan hati yang sehat akan tergantikan oleh jaringan parut kaku di mana kondisi terminalnya yang dikenal sebagai Sirosis Hepatis.
Direktur Utama RSI Sultan Agung dan Ketua Umum PREDIGTI, dr. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FISQUa mengungkapkan selama bertahun-tahun, dunia medis menganggap sirosis stadium akhir tidak dapat dipulihkan tanpa transplantasi hati. Namun, paradigma kebuntuan tersebut telah dipatahkan.
“Melalui Kedokteran Regeneratif Sel Autologus, kita membuka jalan untuk meruntuhkan jaringan parut dari dalam. Keberhasilan didukung oleh riset pionir dari Terai, et al. (2006) di Universitas Yamaguchi, Jepang, yang membuktikan secara klinis bahwa infus sel sumsum tulang autologus secara signifikan mampu memperbaiki fungsi hati pasien sirosis yang sebelumnya tak tertolong,” terang dr Agus secara tertulis pada Sabtu 4 April 2026.
Menurutnya, ada tiga akar masalah pada Jalur Penyebab Sirosis yang merupakan hasil akhir dari kerusakan kronis yang secara anatomis. Pertama Penyebab Pre-Hepatal dimana Gangguan aliran darah sebelum masuk hati, seperti trombosis vena porta yang memicu kematian sel akibat kekurangan oksigen.
Kemudian Penyebab Intra-Hepatal yakni Kerusakan langsung pada sel hati akibat virus (Hepatitis B/C), alkohol, penyakit autoimun, atau perlemakan hati (Non-Alcoholic Fatty Liver Disease/NAFLD). Lalu Penyebab Post-Hepatal dimana Gangguan aliran keluar darah, seperti gagal jantung kanan atau sumbatan saluran empedu kronis yang membuat cairan empedu berbalik meracuni hati.
“ Untuk menghantarkan sel penyembuh ke organ hati, kami menerapkan metode Bone Marrow fresh cocktail minimal manipulation. Menurut panduan global dari Food and Drug Administration/FDA (2017) serta Gimble, et al. (2011) dalam jurnal Cytotherapy, sel yang diproses dengan manipulasi minimal dari tubuh sendiri ini mempertahankan fungsi biologis aslinya dan bebas dari risiko penolakan maupun pembentukan tumor,” jelsanya.
Secara regulasi di Indonesia, lanjut dia, kedaulatan terapi ini dilindungi sah oleh PMK RI No. 34 Tahun 2017. Pihaknya menggunakan dua jalur akses mutakhir agar terapi tepat sasaran, yakni Jalur Intravena (Akses Sistemik) dan Jalur Endovaskular Arteri Hepatika (Akses Intra-Lesi).
“Jalur Intravena (Akses Sistemik) Sebagian Secretome dan sel dimasukkan lewat pembuluh darah vena untuk menciptakan efek penenang sistemik di seluruh tubuh dan memicu sinyal kemotaktik (homing). Sedangkan Jalur Endovaskular Arteri Hepatika (Akses Intra-Lesi) Menggunakan teknik intervensi radiologi, kateter tipis diarahkan dari arteri femoralis langsung menuju arteri utama yang memberi makan hati,” ungkapnya.
Metode terapi tersebut didukung oleh publikasi Lou, et al. (2017) dalam Experimental & Molecular Medicine, penyuntikan eksosom/Secretome secara langsung ke pembuluh darah vascular. Target utamanya untuk melipatgandakan efektivitas pelunakan jaringan parut dibandingkan penyuntikan biasa.
“ Ketika sel-sel ini tiba di hati melalui akses tersebut, mereka bekerja dengan protokol pelapisan yang kami sebut Formula Tri-Sinergi yakni Sinergi Dasar (Secretome sebagai Peredam), Sinergi Inti (PBMC sebagai Eksekutor) dan Sinergi Pemeliharaan (Maintenance).
Selain itu, sinergi dari alam dapat menopang terapi seluler tingkat tinggi sebagai fondasi nutrisi integratif agar hati yang baru diperbaiki tidak kembali terbebani. “Ekstrak temulawak/kunyit (Curcumin) terbukti secara klinis menekan stres oksidatif pada sel hati yang disinergikan dengan Silymarin (Milk Thistle) untuk memperkuat dinding sel hati terhadap racun baru,” imbuhnya.
Kemudian, Asam Amino BCAA berdasarkan Panduan nutrisi klinis Eropa oleh Plauth, et al. (2006) dalam ESPEN Guidelines mewajibkan pemberian suplemen Branched-Chain Amino Acids (BCAA) pada pasien sirosis. “Hati yang rusak tidak bisa mencerna protein biasa, sehingga amonia berisiko naik ke otak (koma hepatikum). BCAA memberi energi otot dengan aman tanpa membebani hepar,” ucapnya.
Sedangkan, Kopi Hitam dan Sayuran Hijau dimana dari berbagai riset dunia sepakat bahwa kopi hitam murni memperlambat laju fibrosis, dan klorofil dari sayuran membantu detoksifikasi alami.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....