April Mop dalam Perspektif Psikologi, antara Hiburan dan Kebutuhan Emosional

  • 01 Apr 2026 21:37 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Perayaan April Mop yang identik dengan candaan dan prank setiap 1 April dinilai memiliki keterkaitan erat dengan kebutuhan psikologis manusia, khususnya dalam aspek kesenangan dan koneksi sosial. Hal tersebut disampaikan oleh Ajeng Octavia Insani Harits, S.Psi., M.Psi, psychology enthusiast, konselor, dan pembicara kesehatan mental, dalam wawancara Pro 2 RRI, Rabu 1 April 2026.

“Fenomena April Mop menarik. Berkaitan dengan kebutuhan dasar manusia, seperti kesenangan, koneksi sosial, social bonding, serta kecenderungan menyukai kejutan yang dirasa aman," katanya.

Menurut Ajeng, kecenderungan masyarakat menyukai prank tidak terlepas dari dorongan untuk membangun kedekatan sosial atau social bonding. Selain itu, kejutan yang dihadirkan dalam prank memberikan sensasi emosional yang menyenangkan selama masih dalam batas aman.

Ia menjelaskan, secara emosional humor seperti prank juga berfungsi sebagai coping mechanism, yakni cara individu mengelola stres. Tertawa dapat memicu pelepasan hormon endorfin yang membantu menciptakan rasa nyaman sekaligus mempererat hubungan antarindividu.

Namun demikian, respons terhadap prank tidak selalu sama. Seseorang yang menjadi korban dapat merasakan berbagai emosi, mulai dari terkejut hingga kecewa. Respons tersebut bersifat spontan dan dipengaruhi oleh kondisi psikologis masing-masing.

Lebih lanjut, Ajeng menuturkan bahwa pelaku prank sering kali merasakan kepuasan tersendiri yang berkaitan dengan ego dan perasaan superioritas sementara. Di sisi lain, tindakan tersebut juga kerap dilandasi oleh rasa kedekatan dengan korban.

“Prank bisa menjadi sarana membangun kedekatan. Akan tetapi, perlu disadari bahwa ada banyak cara lain yang lebih aman untuk menciptakan hubungan yang sehat,” katanya.

Ia menambahkan, tidak semua individu mampu merespons prank dengan baik. Faktor seperti pengalaman masa lalu, kondisi emosional, hingga trust issue dapat memengaruhi reaksi seseorang.

Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk memahami aspek psychological safety dalam berinteraksi, agar candaan yang dilakukan tetap berada dalam batas yang wajar dan tidak menimbulkan dampak negatif. (Aritsu)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....