Dirut RSI Sultan Agung: Puasa Ramadan Adalah Bedah Biologis Alami bagi Sel Tubuh

  • 18 Mar 2026 09:51 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Perkembangan sejarah ilmu bedah saat ini terus bergerak dinamis guna menemukan metode pemulihan yang paling ideal bagi tubuh manusia. Selama puluhan tahun, para praktisi medis telah terbiasa menerapkan prosedur cangkok dan transplantasi jaringan secara makroskopis, seperti pada kasus cangkok kulit maupun tulang.

Direktur Utama RSI Sultan Agung, dr. Agus Ujianto, mengungkapkan jauh sebelum era modern, fondasi penyembuhan alami sebenarnya telah diletakkan oleh para ilmuwan muslim. Hal ini menjadi rujukan penting dalam melihat evolusi dunia kedokteran dari masa ke masa.

“Jika kita menengok kembali ke akar sejarah peradaban, fondasi penyembuhan yang mengandalkan kekuatan alami tubuh sejatinya telah diletakkan sejak zaman keemasan kedokteran Islam. Tokoh-tokoh besar seperti Ibnu Sina dan Ar-Razi telah memperkenalkan pendekatan medis yang holistik, melalui intervensi dokter untuk memfasilitasi dan memperkuat mekanisme pertahanan serta regenerasi alami tubuh itu sendiri,” terang dr. Agus dalam keterangan tertulisnya, Rabu 18 Maret 2026.

Ia menilai, kebijaksanaan medis di masa lalu yang identik dengan bedah makroskopis kini mulai bergeser. Kedokteran modern saat ini tengah memasuki era bedah biologis (biological surgical era), di mana fokus tindakan medis tidak lagi hanya terpaku pada fisik jaringan yang terlihat.

Menurutnya, intervensi medis saat ini tidak lagi sekadar memotong jaringan secara fisik, akan tetapi sudah mulai beroperasi hingga ke tingkat seluler. Perubahan paradigma ini membawa dampak besar pada cara dokter menangani proses pemulihan pasien.

“Pemahaman tentang regenerasi seluler ini menjadi sangat relevan jika kita merefleksikan keajaiban fisiologis pasca-Ramadan. Ibadah puasa selama sebulan penuh secara ilmiah terbukti memicu mekanisme autofagi, yaitu sebuah proses bedah biologis alami di mana tubuh membersihkan sel-sel yang rusak, menyingkirkan racun, dan meremajakan sistem metabolisme,” ucapnya menjelaskan fenomena biologis puasa.

Menurutnya, memaknai Idulfitri sebagai kembalinya manusia kepada fitrah kesucian, yang secara biologis bermanifestasi sebagai kembalinya sel-sel tubuh ke kondisi yang paling murni dan optimal. Hal ini menurutnya selaras dengan firman Allah SWT dalam Surah At-Tin ayat 4, yang menegaskan kesempurnaan rancangan manusia.

“Rancangan ilahiah ini secara menakjubkan telah membekali anatomi kita dengan sistem perbaikan mandiri,” jelasnya.

Dalam pandangan medisnya, proses autofagi yang dipicu oleh puasa merupakan bentuk nyata dari mekanisme perbaikan mandiri tersebut. Tubuh secara cerdas mampu menyeleksi komponen yang tidak lagi berguna untuk kemudian didaur ulang menjadi energi atau sel baru yang lebih sehat.

Kondisi seluler yang telah diperbarui pasca-Ramadan ini diharapkan dapat dijaga oleh masyarakat. Dengan demikian, esensi dari "bedah biologis alami" selama satu bulan penuh dapat memberikan dampak kesehatan jangka panjang bagi kualitas hidup manusia ke depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....