UKM Pilus Bangun Safe Space Kampus
- 27 Feb 2026 11:45 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Ruang aman atau safe space di kampus dinilai menjadi kebutuhan mendesak bagi mahasiswa. Tekanan akademik, percintaan, dan persoalan keluarga kerap membuat mahasiswa merasa sendirian.
Mahasiswa yang tidak menemukan tempat bercerita berisiko melampiaskan masalah ke arah negatif. Karena itu, komunitas kampus hadir sebagai wadah berbagi sekaligus saling menguatkan.
Pembahasan ini mengemuka dalam program SPADA PRO 2 Semarang (12/02/26). Dialog tersebut mengangkat tema Safe Space di Kampus: Kekuatan Komunitas bersama UKM Pilus Universitas Semarang.
Ogi Saputra dan Ziyan Nawafila hadir sebagai narasumber dari UKM Pilus. Organisasi ini merupakan Pusat Informasi Layanan dan Konseling yang berdiri sejak 13 Juni 2006.
UKM Pilus fokus pada kesehatan mental, reproduksi, dan edukasi bahaya NAPZA bagi remaja. Mereka menyediakan peer counselor sebelum mahasiswa diarahkan ke dosen psikologi melalui SATGAS kampus.
Ogi menjelaskan mayoritas mahasiswa datang dengan persoalan percintaan dan keluarga. “Kadang mereka sulit menemukan ruang aman untuk cerita,” ujarnya dalam dialog tersebut.
Menurutnya, tekanan IPK dan tuntutan akademik dapat memicu stres berkepanjangan. Komunitas menjadi tempat aman agar mahasiswa tidak mencari pelarian yang merugikan diri sendiri.
Ziyan menegaskan safe space dibangun dari sikap tidak menghakimi dan tidak memaksa. “Safe space itu tentang rasa nyaman dan saling support,” katanya.
Ia menilai meminta bantuan bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk kepedulian pada diri. Kesadaran tersebut membantu mahasiswa lebih berani terbuka.
Alur konseling dimulai dari pesan langsung ke Instagram UKM Pilus. Jika kasus belum tertangani, mahasiswa diarahkan mengisi formulir untuk konsultasi dengan dosen psikologi.
Ogi menyebut perubahan perilaku menjadi tanda mahasiswa membutuhkan bantuan. Penurunan aktivitas, menjauh dari teman, hingga prestasi akademik menurun menjadi sinyal awal.
Keduanya mengajak mahasiswa aktif membangun lingkungan suportif di kampus. Mereka menilai kekuatan komunitas menjadi fondasi utama terciptanya safe space yang berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....