Autograf Transplant Cell, Harapan Baru bagi Pasien Parkinson
- 24 Feb 2026 12:48 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang – Penyakit Parkinson merupakan gangguan degeneratif yang secara perlahan merampas kendali gerak penderitanya. Dunia kedokteran kini menghadirkan harapan baru melalui pendekatan Autograf Transplant Cell berbasis sel tubuh pasien sendiri.
Direktur RSI Sultan Agung sekaligus Ketua Perhimpunan Kedokteran Digital Terintegrasi Indonesia(Predigti), dr. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FISQua menjelaskan metode autograf awalnya digunakan dalam bedah untuk menutup luka menggunakan jaringan pasien sendiri. Kini teknik tersebut berkembang hingga tingkat seluler melalui metode Autologous Bone Marrow Aspirate (BMA) atau sel punca dari tubuh pasien.
“Secara ilmiah, penggunaan sel autologus adalah bentuk kejujuran biologi yang paling murni. Sel autologus menawarkan keunggulan berupa Zero Rejection (tanpa penolakan) karena memiliki identitas genetika yang identik dengan resipien yang ditegaskan oleh Fabio Ciceri, dkk dalam jurnal The Lancet Haematology,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa, 24 Februari 2026.

Menurutnya, tubuh tidak mengenali sel tersebut sebagai ancaman karena berasal dari dirinya sendiri. Dengan demikian, risiko komplikasi imunologis dapat ditekan secara maksimal.
Agus menjelaskan, pada pasien Parkinson sel punca dari sumsum tulang tidak sekadar menggantikan sel yang rusak. Sel tersebut berperan sebagai “bioreaktor” yang melepaskan faktor pertumbuhan saraf atau neurotropik.
“Dua mekanisme utamanya yang telah teruji secara internasional yakni Nutrisi Neurotropik dan Modulasi Inflamasi. Sel punca memiliki sifat imunomodulator yang mampu memadamkan mikro-inflamasi kronis di otak sehingga menekan sitokin proinflamasi, pemicu utama kerusakan saraf berkelanjutan pada pasien Parkinson,” ucapnya.
Ia menjelaskan, praktik terapi ini berlandaskan asas Minimal Manipulation atau manipulasi minimal. Lembaga regulator global seperti FDA mengategorikan prosedur autologus yang diproses secara minimal dalam satu rangkaian tindakan medis sebagai bagian dari praktik kedokteran yang sah.
Di Indonesia, pendekatan ini disebut selaras dengan regulasi Kementerian Kesehatan yang mendukung inovasi terapi sel punca manipulasi minimal. Standar tersebut juga dinilai menjamin keselamatan pasien sesuai mutu internasional FISQua.
Dalam kajian Studi Islam, Agus menyebut metode ini mencerminkan prinsip Halalan Thayyiban. Penggunaan sel dari tubuh sendiri dinilai menghindari perdebatan etis terkait sumber biologis yang asing.
“Isyarat ini menunjukkan bahwa perangkat penyembuhan sesungguhnya sangat dekat, tersimpan dalam sistem biologi manusia itu sendiri. Hal ini diperkuat oleh hadis Rasulullah SAW, semua penyakit ada obatnya,’” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....