Fasdhulogy, Teknik Buang Darah yang Diklaim Aktifkan Regenerasi Tubuh

  • 19 Feb 2026 10:51 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Di tengah tren global dunia kedokteran, sebuah teknik klasik yang disebut Al-Fashdu (veneseksi) muncul kembali dengan wajah baru bernama Fasdhulogy yang lebih saintifik. Teknik ini tidak sekadar membuang darah, tetapi juga sebagai "tombol pemicu" bagi kebangkitan sel punca (stem cell) dan sistem perbaikan mandiri tubuh.

Direktur RSI Sultan Agung, dr. Agus Ujianto menjelaskan, secara fisiologis, darah vena yang dikeluarkan dalam prosedur Fasdhulogy mengandung tumpukan sel darah merah yang telah tua (senesen) dan limbah metabolisme. Dengan mengeluarkan sel-sel yang sudah tidak optimal ini secara mekanis untuk melakukan efisiensi sistemik.

“Tubuh tidak lagi perlu bekerja keras melalui proses apoptosis (kematian sel terprogram) yang melelahkan bagi limpa dan penyaringan limbah di glomerulus ginjal. Hasilnya, viskositas darah menurun, aliran mikrosirkulasi di pembuluh darah terkecil meningkat, dan organ ekskresi "bernapas" lebih lega,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis, 19 Februari 2026.

Ia mengungkapkan, pengeluaran darah bisa memicu penyembuhan terletak pada molekul bernama Hypoxia-Inducible Factor 1-alpha (HIF-1α). Saat volume darah berkurang sesaat, sel-sel tubuh mendeteksi adanya penurunan oksigen ringan yang disebut hipoksia fisiologis.

“Stabilisasi HIF-1α memerintahkan sel untuk berkoordinasi, mengaktifkan peptida pelindung, dan merangsang mitokondria untuk bekerja lebih efisien. Inilah titik di mana komunikasi intraseluler menjadi sangat aktif, mempersiapkan tubuh untuk fase perbaikan besar-besaran,” ungkapnya.

Agus menegaskan, puncak dari proses ini adalah mobilisasi sel punca autologus (dari tubuh sendiri). Sinyal darurat dari jaringan yang "lapar" oksigen memicu pelepasan sel punca dari dua gudang utama yakni Bone Marrow dan Stromal Vascular Fraction (SVF).

“Pasukan penyembuh ini kemudian berkomunikasi melalui sekretom dan eksosom dengan vesikel kecil. Ini membawa instruksi genetik untuk memperbaiki jaringan yang rusak, meredam peradangan, dan meregenerasi organ secara alami,” ujarnya.

Menurut dia, landasan ilmiah ini didukung oleh berbagai riset internasional, mulai dari teori pemenang Nobel tentang adaptasi sel terhadap oksigen (Gregg Semenza). Selain itu, juga melalui studi tentang jalur parakrin stem cell (Arnold Caplan).

“Di RSI Sultan Agung, konsep ini dipadukan dengan filosofi penyembuhan profetik Birrul Walidain dan semangat Ibnu Sina. Tujuannya menciptakan layanan kesehatan yang presisi dan personal,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....