Mengenal ALS atau Lou Gehrig, Penyakit Sistem Saraf
- 10 Feb 2026 09:13 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang – Amyotrophic lateral sclerosis (ALS) adalah penyakit progresif yang memengaruhi sel saraf di otak dan sumsum tulang belakang. Penyakit ini menyebabkan pengidapnya kehilangan kemampuan untuk mengontrol pergerakan otot secara bertahap.
Dalam kajian yang dipublikasikan di The Lancet Neurology, ALS dijelaskan sebagai gangguan neurodegeneratif yang menyerang neuron motorik dan menyebabkan kelemahan otot yang semakin memburuk. Kondisi ini pada akhirnya dapat memengaruhi kemampuan berbicara, menelan, hingga bernapas.
ALS juga dikenal sebagai penyakit Lou Gehrig, merujuk pada pemain bisbol Amerika Serikat yang didiagnosis dengan kondisi tersebut. Hingga kini, penyebab pasti ALS belum diketahui secara jelas.
Menurut ulasan ilmiah dalam Nature Reviews Neurology, sekitar 5 hingga 10 persen kasus ALS bersifat genetik atau diturunkan dalam keluarga. Sementara itu, sebagian besar kasus lainnya tergolong sporadis tanpa riwayat keturunan yang jelas.
Beberapa penelitian juga menunjukkan adanya keterkaitan ALS dengan stres oksidatif akibat radikal bebas, gangguan metabolisme protein, serta proses peradangan pada sistem saraf. Selain itu, ketidakseimbangan kadar glutamat—zat kimia penghantar sinyal saraf—disebut berperan dalam mempercepat kerusakan neuron motorik.
Faktor risiko ALS juga berkaitan dengan usia dan jenis kelamin. Studi dalam The New England Journal of Medicine mencatat bahwa ALS lebih sering terjadi pada pria dibanding wanita sebelum usia 65 tahun, dengan gejala paling umum muncul pada akhir usia 50-an atau awal 60-an.
Gejala awal ALS biasanya berupa kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari, seperti berjalan atau mengangkat benda. Kelemahan pada kaki, tangan, lengan, serta kram otot pada bahu atau lidah juga sering terjadi.
Pengidap ALS dapat mengalami kesulitan mempertahankan postur tubuh dan mengangkat kepala. Selain gangguan fisik, beberapa pasien juga mengalami perubahan emosi mendadak serta gangguan fungsi kognitif.
Dalam beberapa kasus, ALS dapat berkembang menjadi demensia frontotemporal. Kondisi ini ditandai dengan gangguan pengambilan keputusan, perubahan perilaku, serta gangguan daya ingat.
Untuk memastikan diagnosis, tenaga medis dapat melakukan berbagai pemeriksaan seperti elektromiogram, studi konduksi saraf, MRI, tes darah dan urin, biopsi otot, hingga tes genetik. Pemeriksaan ini bertujuan menyingkirkan kemungkinan penyakit lain dengan gejala serupa.
Pengobatan ALS saat ini berfokus pada memperlambat perkembangan penyakit dan mencegah komplikasi. Penggunaan alat bantu seperti penyangga tubuh, kursi roda, serta dukungan nutrisi menjadi bagian dari penanganan jangka panjang.
Terapi tambahan seperti fisioterapi, terapi bicara, dan terapi pernapasan juga berperan penting dalam menjaga kualitas hidup pengidap. Pendekatan multidisipliner dinilai mampu membantu pasien tetap mandiri lebih lama meskipun penyakit terus berkembang. (cel)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....