Kewaspadaan Dini Cegah Penyebaran Virus Nipah

  • 05 Feb 2026 16:16 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang — Meski hingga saat ini belum ditemukan kasus Virus Nipah di Indonesia, masyarakat diminta tetap waspada terhadap potensi penyebarannya. Pencegahan dini dinilai menjadi langkah penting mengingat Virus Nipah termasuk penyakit zoonosis yang berbahaya dan memiliki tingkat fatalitas tinggi.

Pengamat Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro, Ari Udiyono, menjelaskan Virus Nipah merupakan penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia. Kelelawar diketahui sebagai reservoir alami virus tersebut, sementara penularan ke manusia juga dapat terjadi melalui hewan perantara seperti babi.

“Virus Nipah ini sebenarnya tidak dibawa langsung oleh manusia, melainkan oleh hewan, terutama kelelawar. Dalam istilah kesehatan disebut zoonosis, artinya memiliki potensi menular ke berbagai wilayah yang dihuni hewan tersebut, khususnya yang berkaitan dengan konsumsi buah-buahan,” ujarnya saat diwawancarai RRI, Kamis, 5 Februari 2026.

Menurutnya, risiko penularan perlu diantisipasi seiring meningkatnya interaksi manusia dengan satwa liar, aktivitas peternakan, serta pola konsumsi makanan dan minuman yang tidak higienis. Faktor lingkungan dan perilaku masyarakat menjadi kunci utama dalam upaya pencegahan.

“Faktor yang paling berpengaruh pada manusia misalnya mengonsumsi buah yang jatuh tanpa dicuci, buah-buahan yang sudah busuk, serta kebersihan diri yang kurang baik. Hal-hal tersebut berpotensi menimbulkan masalah kesehatan,” jelasnya.

Ia menyebutkan sejumlah langkah krusial untuk meminimalisir potensi penularan Virus Nipah. Di antaranya menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, rajin mencuci tangan sebelum makan, mengonsumsi makanan yang segar dan higienis, serta menggunakan masker pada kondisi tertentu.

Ari menilai peran pemerintah daerah dan dinas kesehatan sangat strategis dalam pengawasan penyakit menular. Upaya tersebut mencakup peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, penguatan sistem deteksi dini, serta penyampaian informasi yang benar dan mudah dipahami masyarakat.

Selain itu, ia juga mendorong adanya koordinasi lintas sektor, termasuk sektor kesehatan, peternakan, dan lingkungan hidup, untuk menekan potensi penyebaran penyakit zoonosis seperti Virus Nipah.

Virus Nipah tergolong berbahaya karena dapat menyebabkan gangguan pernapasan akut hingga peradangan otak atau ensefalitis. Meski demikian, masyarakat diminta tidak panik, namun tetap meningkatkan kewaspadaan.

“Kita harus waspada, tapi tidak boleh memunculkan kepanikan. Terutama bagi masyarakat yang berada di wilayah lintas batas atau memiliki mobilitas ke daerah berisiko. Yang terpenting adalah menjaga kebersihan diri dan menghindari makanan yang berpotensi menimbulkan masalah kesehatan,” ujarnya.

Di akhir keterangannya, Ari mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan, menghindari kontak langsung dengan hewan liar. Selain itu, juga segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala mencurigakan setelah berada di lingkungan berisiko. (ARITSU)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....