Hipertensi di Jateng Tinggi, Cek Tekanan Darah Kunci Pencegahan
- 04 Feb 2026 15:51 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang – Angka hipertensi di Jawa Tengah masih tergolong tinggi dan melampaui rata-rata nasional. Kondisi ini menegaskan pentingnya pemantauan tekanan darah secara rutin sebagai langkah utama mencegah komplikasi penyakit kardiovaskular.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi hipertensi di Jawa Tengah mencapai 32,9 persen, sementara Daerah Istimewa Yogyakarta berada di angka 31,8 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan prevalensi nasional yang tercatat sebesar 30,8 persen.
Selain faktor usia dan genetika, tingginya kasus hipertensi juga dipengaruhi pola konsumsi masyarakat. Data SKI 2023 menunjukkan, konsumsi makanan manis di Jawa Tengah mencapai 36,5 persen, minuman manis 60,3 persen, makanan asin 39,1 persen, makanan berlemak 54,2 persen, serta makanan dengan bumbu penyedap hingga 84,9 persen.
| Baca juga: Pentingnya Cek Kesehatan Rutin bagi Remaja |
Pola serupa juga ditemukan di DI Yogyakarta, di mana konsumsi makanan berdensitas energi tinggi berpotensi meningkatkan tekanan darah apabila berlangsung dalam jangka panjang. Kondisi ini dapat memperbesar risiko penyakit jantung dan pembuluh darah.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Pokja Hipertensi Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Dr. Bagus Andi Pramono, Sp.JP, FIHA, menekankan, hipertensi merupakan kondisi kronis yang bersifat dinamis dan memerlukan pemantauan berkelanjutan. Hal itu ia ungkapkan dalam diskusi kesehatan di Semarang, Rabu, 4 Februari 2026.
"Hipertensi merupakan kondisi kronis dengan karakter tekanan darah yang dinamis dan berubah-ubah, dipengaruhi oleh aktivitas fisik, stres, waktu pengukuran, lingkungan, serta kepatuhan pasien terhadap terapi. Pemeriksaan tekanan darah yang akurat, terstandar, dan berulang menjadi kunci utama dalam diagnosis, stratifikasi risiko, serta evaluasi keberhasilan terapi hipertensi," ucapnya.
Ia menambahkan, penggunaan alat ukur tekanan darah yang tervalidasi secara klinis serta edukasi cara pengukuran yang benar sangat penting untuk mencegah kesalahan klasifikasi hipertensi. "Kehadiran Experience Center diharapkan dapat meningkatkan literasi masyarakat dan tenaga kesehatan terkait pentingnya pengukuran tekanan darah sesuai standar," katanya.
Sejalan dengan itu, Pokja Hipertensi PERKI juga mendorong pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung pencatatan dan pemantauan tekanan darah jangka panjang. Termasuk, pengukuran di luar fasilitas kesehatan.
Upaya peningkatan kesadaran masyarakat juga dilakukan melalui edukasi berkelanjutan. OMRON, misalnya, turut berkontribusi lewat kampanye kesehatan, kegiatan edukasi bersama tenaga medis, serta pembukaan OMRON Experience Center (OEC) di berbagai kota.
Direktur OMRON Healthcare Indonesia, Tomoaki Watanabe, mengatakan, kehadiran OEC di Semarang merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat Jawa Tengah.
"Melalui misi global Going for ZERO, OMRON berkomitmen untuk menurunkan risiko stroke dan serangan jantung. Untuk mendukung komitmen tersebut, pemantauan tekanan darah secara rutin menjadi kebutuhan penting yang perlu ditopang oleh layanan yang mudah diakses, cepat, dan andal," ujarnya.
Ia juga mengingatkan, gangguan irama jantung seperti atrial fibrilasi kerap tidak disadari karena minim gejala, padahal dapat meningkatkan risiko stroke hingga lima kali lipat. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk lebih peduli terhadap kesehatan jantung melalui pemeriksaan tekanan darah secara berkala.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....