Banjir Picu Leptospirosis, Dinkes Kota Semarang Imbau Warga Waspada
- 03 Feb 2026 14:43 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang – Penyakit leptospirosis mengintai masyarakat saat musim hujan dan banjir. Dinas Kesehatan Kota Semarang meminta warga lebih berhati-hati karena penyakit ini dapat berdampak serius hingga berujung kematian.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Moch. Abdul Hakam, mengatakan kasus leptospirosis cenderung meningkat pada musim hujan atau pascabanjir. Hal tersebut disampaikannya dalam wawancara bersama RRI Semarang, Selasa, 3 Februari 2026.
Leptospirosis merupakan penyakit yang ditularkan melalui air atau tanah yang terkontaminasi urine hewan, terutama tikus. Bakteri Leptospira dapat masuk ke tubuh manusia melalui luka terbuka atau selaput lendir.
Aktivitas di lingkungan banjir, seperti membersihkan rumah atau bekerja di area tergenang tanpa alat pelindung, menjadi faktor risiko utama. Kontak langsung dengan air banjir meningkatkan peluang penularan penyakit ini.
Wilayah rawan leptospirosis umumnya berada di kawasan yang sering tergenang banjir, rob, atau memiliki sistem drainase buruk. Permukiman padat penduduk dengan sanitasi dan pengelolaan sampah yang kurang baik juga berisiko tinggi.
“Leptospirosis tidak hanya ada di wilayah genangan banjir tapi wilayah yang padat penduduk, sanitasi hygiene kurang bagus, dan pengelolaan sampah kurang. Perilaku hidup bersih masyarakat yang kurang peduli juga bisa menyebabkan munculnya tikus yang banyak di wilayah tersebut,” katanya.
Kota Semarang termasuk daerah rawan leptospirosis karena kombinasi kondisi lingkungan dan pola cuaca. Risiko meningkat di wilayah yang kerap mengalami banjir atau rob.
“Daerah dengan tingkat kepadatan penduduk tinggi seperti Pedurungan, Tembalang, Semarang Barat, Semarang Selatan, daerah yang setiap tahunnya kasusnya lumayan cukup ada,” ucapnya.
Hakam menjelaskan, gejala awal leptospirosis sering menyerupai penyakit lain sehingga kerap tidak disadari. Kondisi ini membuat penderita berisiko terlambat mendapatkan penanganan.
“Tanda-tanda awalnya seperti demam, demam tinggi disertai nyeri di bagian betis, matanya kuning kemerahan seperti orang kena hepatitis, ada kemerahan di daerah kelopak mata. Hati-hati, pasien yang mengalami gejala seperti itu beresiko terdiagnosa leptospirosis,” jelasnya.
Masyarakat diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala mencurigakan. Deteksi dini dinilai penting untuk mencegah komplikasi serius.
Selain itu, masyarakat diminta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Upaya tersebut meliputi mencuci tangan sebelum makan, menjaga kebersihan rumah dan lingkungan, serta memastikan sirkulasi udara tetap baik.
Pengurus RT dan RW juga diimbau mengajak warga melakukan operasi tangkap tikus secara rutin. Langkah ini diharapkan mampu menekan populasi tikus dan risiko penularan leptospirosis.
Dinas Kesehatan Kota Semarang terus melakukan pencegahan melalui edukasi masyarakat dan surveilans penyakit. Peran aktif masyarakat dinilai sangat penting di tengah intensitas hujan yang masih tinggi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....