Belum Ada Vaksin, Indonesia Diminta Waspada Virus Nipah

  • 31 Jan 2026 08:49 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Prof. Dr. Dominicus Husada, menilai risiko virus Nipah menjadi pandemi global seperti Covid-19 masih tergolong kecil. Meski demikian, kewaspadaan tetap diperlukan karena potensi mutasi virus tidak bisa diabaikan.

Dominicus menjelaskan, salah satu syarat utama sebuah penyakit menjadi pandemi adalah kemampuan menular dengan cepat dan mudah, terutama melalui saluran pernapasan. Virus Nipah menular terutama melalui kontak langsung, bukan lewat udara.

"Cara penularan seperti ini tidak secepat SARS-CoV-2. Karena itu, risikonya lebih besar menjadi wabah lokal, bukan pandemi global,” jelasnya, dalan seminar nasional secara daring, yang dikutib, Jumat, 30 Januari 2026.

Hingga saat ini, belum tersedia vaksin maupun antivirus khusus untuk virus Nipah. Penelitian vaksin masih berada pada tahap uji klinis dan diperkirakan membutuhkan waktu beberapa tahun sebelum dapat digunakan secara luas. Terkait kesiapan Indonesia, Prof. Dominicus menilai sistem kesehatan nasional relatif siap menangani kasus terbatas.

“Kalau kasusnya satu atau dua, kita masih mampu. Kalau jumlahnya sangat banyak, itu akan menjadi ujian besar,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kewaspadaan, deteksi dini, dan edukasi masyarakat tetap menjadi kunci utama. “Tidak perlu panik, tapi jangan lengah. Itu prinsip yang paling tepat menghadapi virus Nipah saat ini,” ujarnya.

Menurutnya, penyebaran virus Nipah kemungkinan terbatas pada wilayah tertentu, seperti satu kota, provinsi, atau negara. Namun ia menegaskan, risiko tersebut bukan berarti nol.

“Kita tetap harus waspada, karena makhluk hidup termasuk virus bisa bermutasi. Jika suatu saat muncul faktor baru yang membuat penularannya berubah, situasinya bisa berbeda,” ujarnya.

Terkait pencegahan, Prof. Dominicus menekankan pentingnya penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), terutama mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun sebelum mengonsumsi makanan. “PHBS itu universal. Intinya membersihkan segala sesuatu yang bukan bagian dari tubuh kita, terutama sebelum makan,” ujarnya.

Prof. Dominicus menjelaskan, virus Nipah yang masuk ke tubuh—baik melalui saluran cerna maupun kontak—akan masuk ke aliran darah dan menyebar ke organ target. “Virus ini cenderung menyerang sistem saraf pusat dan saluran pernapasan. Jika ke otak, bisa menyebabkan gangguan kesadaran atau kejang. Jika ke paru-paru, bisa menimbulkan sesak napas,” paparnya.

Pada sebagian orang, sistem imun mampu menghentikan penyebaran virus. Namun pada kelompok lain, virus dapat terus berkembang dan menimbulkan gejala berat. Meski data kasus Nipah masih terbatas, Prof. Dominicus menyebut kelompok dengan daya tahan tubuh rendah memiliki risiko lebih tinggi mengalami gejala berat.

Ia menekankan kelompok rentan ini perlu mendapatkan perlindungan ekstra, termasuk pembatasan paparan terhadap sumber penularan. “Lansia, penderita diabetes, penyakit paru kronis, kanker, HIV, serta anak dengan penyakit jantung bawaan atau gangguan ginjal berisiko lebih tinggi,” jelasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....