Pemerintah Dorong Pengembangan Obat Modern Indonesia Berbasis Bioaktif
- 23 Jan 2026 14:43 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Pemerintah berkomitmen mendorong pengembangan obat modern asli Indonesia berbasis bahan bioaktif dari tanaman herbal. Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) Kementerian Perindustrian, Taufiek Bawazier saat mendampingi kunjungan kerja Komisi VII DPR RI ke PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul, Kabupaten Semarang, Jumat, 23 Januari 2026.
Taufiek menilai industri herbal nasional memiliki perjalanan panjang dan potensi besar untuk dikembangkan lebih jauh, bahkan sejajar dengan pengobatan modern global. Ia menyebut sejarah pengobatan dunia menunjukkan bahwa obat berbasis alam telah digunakan sejak lama.
“Kalau kita lihat sejarah, Hippocrates yang dikenal sebagai Bapak Kedokteran itu sebenarnya tidak menggunakan bahan kimia. Yang digunakan dulu adalah obat-obatan bioaktif,” ujarnya.
Menurutnya, saat ini Kementerian Perindustrian tidak hanya mendorong pengembangan obat herbal terstandar. Akan tetapi, juga mengarah pada pengembangan bioactive ingredients sebagai bagian dari obat modern asli Indonesia.
“Di dalam tanaman obat seperti sambiloto, terdapat zat aktif yang sangat penting. Bioaktif ini mengandung flavonoid, alkaloid, saponin, hingga antioksidan yang potensial untuk pengobatan penyakit berat, termasuk kanker, sekarang banyak dikembangkan di Eropa dan Amerika,” jelasnya.
Taufiek menambahkan, keunggulan bioaktif terletak pada proses ekstraksi zat aktif dari tanaman obat, bukan sekadar pengolahan tradisional. Jika dikembangkan secara serius, Indonesia berpeluang besar unggul di sektor farmasi berbasis sumber daya alam.
Ia mengakui salah satu tantangan besar saat ini adalah obat herbal yang belum sepenuhnya dijadikan sebagai resep utama oleh dokter. Selama ini, obat herbal hanya menjadi pendamping obat modern berbahan kimia.
“Ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi kita, padahal sumber daya alamnya ada di Indonesia. Sementara, bahan kimia farmasi, sekitar 90 persen masih kita impor dari Cina dan India,” katanya.
Taufiek berharap kunjungan kerja Komisi VII DPR RI dapat memperkuat sinergi antara pemerintah, legislatif, dan industri dalam mendorong kemandirian industri farmasi nasional. “Kunjungan ini membuktikan bahwa seeing is believing, dengan sinergi yang kuat, industri farmasi dan obat-obatan nasional akan semakin kokoh ke depan,” ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....