Mengenal Kalender Hijriah dan Miladiah

  • 08 Jul 2024 12:01 WIB
  •  Semarang

KBRN, Semarang: Selaras dengan SKB 3 Menteri tanggal (7/7/2024) ditetapkan sebagai tanggal merah memperingati Tahun Baru Islam 1446 Hijriyah. Kalender hijriah memiliki keunikan sendiri sebagaimana halnya kalender miladiah atau masehi.

Kalender hijriah menggunakan perhitungan bulan, sedangkan kalender masehi menggunakan perhitungan matahari. Kalender hijriah setiap tahunnya lebih 11 hari daripada kalender miladiah sehingga selisih angka tahun dari kedua kalender itu semakin mengecil.

Ada isyarat dalam ketetapan kalender hijriah akan sama dengan ketepatan kalender miladiah, pasalnya diprediksi keduanya akan bertemu pada 20526 M, bertepatan dengan 20526 H, artinya angka tahun hijriah pelan-pelan mengejar angka tahun masehi.

Seperti yang diberitakan mediaindonesia.com pemilihan nama-nama bulan lebih dihubungkan dengan kondisi objektif dunia Arab ketika itu. Misalnya, disebut muharam karena pada bulan itu semua suku atau kabilah di Semenanjung Arabia sepakat untuk mengharamkan perang.

Pada Oktober, daun-daun menguning sehingga dinamai Safar (shafar, ‘kuning’). November dan Desember pada musim gugur (rabi’) berturut-turut dinamai Rabiulawal (Rabi’ul Awwal) dan rabiulakhir (Rabi’ul Akhir).

Januari dan Februari ialah musim dingin (jumad atau ‘beku’) sehingga dinamai Jumadilawal-Jumadilakhir (Jumadil Awwal-Jumadil Akhir). Salju mulai mencair (Rajab) pada Maret.

Datanglah musim semi pada April dinamai Syakban (syi’ib = lembah) karena pada saat ini, saatnya turun ke lembah-lembah untuk mengolah pertanian atau menggembala ternak. Pada Mei, suhu mulai membakar kulit lalu suhu meningkat pada Juni, inilah Ramadan (‘pembakaran’) dan Syawal (syawwal, ‘peningkatan’).

Juli merupakan puncak musim panas yang membuat orang lebih senang istirahat duduk di rumah daripada bepergian sehingga bulan itu dinamai Zulkaidah (Dzul’ Qa’dah/qa’id = duduk). Akhirnya, Agustus dinamai Zulhijah (Dzul Hijjah) sebab pada bulan itu masyarakat Arab menunaikan ibadah haji ajaran nenek moyang mereka, Nabi Ibrahim.

Kedua sistem penanggalan itu, masing-masing memiliki keunggulan. Karena bulan dan matahari yang dijadikan patokan sama-sama ciptaan Tuhan yang begitu setia mengikuti perintahNya.

Tidak pernah bergeser mengalami kemajuan atau keterlambatan barang sedikitpun sepanjang dunia Bimasakti atau biasa disebut milky way masih normal. Itu sejalan dengan apa yang ditegaskan di dalam QS al-Isra’ ayat 12 dan QS Yasin ayat 38-40.

Sebelum penetapan kalender hijriah bangsa Arab menggunakan sistem penanggalan lunisolar dan tahunnya dihubungkan dengan peristiwa terpenting dalam tahun itu. Misalnya Nabi Muhammad dilahirkan pada Senin, 12 Rabiulawal Tahun Gajah.

Karena dalam tahun itu terjadi peristiwa memilukan hati dengan hancurnya pasukan bergajah yang dipimpin Raja Abrahah dari Yaman. Pada waktu itu, Mekah dinamakan ‘Negeri Syirik’ atau ‘Bumi Syirik’, pendapat terakhir itu diusulkan Ali ibn Abi Thalib.

Akhirnya musyawarah yang dipimpin Amirul Mukminin Umar Ibn Khatthab sepakat memilih momentum yang dijadikan awal kalender Islam ialah hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah. Momentum itulah yang menjadi cikal bakal ka­lender Islam.

Hitungan tahun dan perhitungan dari tahun- tahun yang berlalu, matahari menjadi alat hitung yang disebut miladiah yang mengeluarkan cahaya dan dari bulan yang mengeluarkan sinar. Keduanya saling melengkapi dalam perhitungan kalender.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....