Memasyarakatkan Pemanenan Air Hujan dan Biopori di Desa Genengsari Grobogan

  • 31 Agt 2023 13:01 WIB
  •  Semarang

KBRN, Semarang : Secara fisiografis-geologis Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah merupakan bagian dari antiklinorium kendeng yang didominasi oleh endapan alluvium dan batuan karbonatan. Secara meteorologis, Kabupaten Grobogan merupakan salah satu wilayah yang menjadi langganan bencana kekeringan pada musim kemarau.

Mengacu pada hasil analisis Curah Hujan dan Sifat Hujan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pada bulan Mei 2023, Grobogan diperkirakan mulai mengalami kekeringan meteorologis. Puncaknya, bulan September 2023, hingga dampak kekeringan ini akan meluas apabila kebutuhan akan air baku terus meningkat.

Mendasari hal tersebut, tim dosen dari Universitas Negeri Semarang (Unnes) sebagai kampus berwawasan konservasi melaksanakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM) yaitu Focus Group Discussion (FGD) untuk mensosialisasikan pentingnya konservasi air di Desa Genengsari, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan. FGD diikuti oleh 30 peserta dari warga Genengsari dan difasilitasi oleh perangkat desa setempat.

Tim pengabdian diketuai oleh Prof Dr Dewi Liesnoor Setyowati, dan beranggotakan Prof Dr Tri Marhaeni Pudji Astuti, Prof Dr Puji Hardati, Prof Dr Eva Banowati, Fajar SPd MPd, dan Jamhur ST MT. Menurut Dewi Liesnoor, kondisi kering secara meteorologis, kurangnya fasilitas penyediaan air, ekploitasi airtanah secara berlebihan, minimnya pengetahuan masyarakat mengenai konservasi, telah mengubah kekeringan meteorologis menjadi bencana kekeringan sosial-ekonomi.

"Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD-red) Kabupaten Grobogan telah berupaya mengurangi dampak kekeringan melalui dropping air bersih pada setiap desa yang mengalami kekeringan, namun hal tersebut bukan menjadi solusi yang tepat secara jangka panjang. Dari tahun ke tahun, kecenderungan ketersediaan air terus menurun, akibat pembukaan lahan hutan menjadi pertanian pada daerah resapan air," ungkapnya.

Pihaknya menjelaskan, penambahan lahan terbangun menyebabkan berkurangnya infiltrasi air kedalam tanah. Adapun, kebutuhan air terus meningkat dan fenomena El Nino yang diperkirakan hingga bulan Oktober 2023, kian memperburuk keadaan tersebut.


Selain kegiatan FGD, tim pengabdian Unnes juga menghibahkan dan membangun satu set Pemanenan Air Hujan (PAH) berkapasitas 3.100 liter disamping Balai Desa Genengsari. Ada pula pembuatan 25 titik Lubang Resapan Biopori (LRB) di sekitaran Desa Genengsari dengan melibatkan warga setempat.

Dewi Liesnoor berharap, kedepan terjadi peningkatan kapasitas masyarakat desa di Kabupaten Grobogan, sehingga mereka memiliki wawasan konservasi air. Imbasnya, kelestarian lingkungan hidup terjaga, dengan cara penghijauan, pengawetan air, penghematan air, dan melindungi daerah resapan air.

Di sisi lain, ia mengatakan, peranan Pemerintah Daerah maupun swasta menjadi hal yang sangat mendesak untuk memberikan solusi secara jangka panjang. Tentunya mengenai penyediaan dan pengelolaan air bersih.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....