Lulusan Baru Hadapi Culture Shock, Adaptasi Jadi Kunci Hadapi Dunia Kerja

  • 16 Sep 2026 15:40 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Memasuki dunia industri menjadi tantangan tersendiri bagi lulusan baru. Perbedaan antara teori yang dipelajari di bangku kuliah dengan kondisi nyata di dunia kerja kerap menimbulkan culture shock bagi para pekerja pemula.

Hal tersebut dirasakan seorang pekerja kreatif, Rahma yang berbagi pengalamannya kepada RRI Semarang, Rabu 16 September 2026. Menurutnya, dunia perkuliahan yang lebih banyak memberikan pemahaman teori terkadang belum sepenuhnya mempersiapkan mahasiswa menghadapi persoalan nyata di industri.

“Perbedaan terbesarnya itu karena kalau di kuliah kan bahasanya 60 persen teori, 40 persen praktik. Sedangkan realitas di lapangan itu banyak praktik yang tidak diajarin di kuliah. Kalau di kuliah diajarin pakai cara A, ternyata di lapangan kita bisa pakai cara B dan C,” kata Rahma.

Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, Rahma memilih aktif bertanya kepada senior di tempat kerja dan melakukan riset secara mandiri melalui internet. Menurutnya, komunikasi dengan rekan kerja yang lebih berpengalaman dapat membantu menemukan solusi ketika menghadapi persoalan teknis.

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, ia juga menilai keberanian untuk mencoba hal baru menjadi kemampuan penting bagi pekerja saat ini. Penguasaan perangkat lunak dan teknologi baru, kata dia, perlu dilakukan tanpa rasa takut untuk mencoba dan mengeksplorasi.

“Kalau kita takut mengulik dan mencoba software baru, kita akan terhalang dan tidak bisa mengeksplorasi hal-hal baru,” katanya.

Dalam satu hingga tiga tahun terakhir, Rahma mengaku harus mempelajari kembali sejumlah keterampilan dari dasar untuk menyesuaikan diri dengan perubahan tren pasar yang semakin mengarah ke digital.

Salah satunya adalah kemampuan pemasaran digital dan penyuntingan konten. Perubahan pola penjualan dari cara konvensional menuju platform digital membuat pekerja perlu memahami pengelolaan penjualan melalui media sosial dan marketplace, sekaligus mampu membuat serta menyunting konten visual.

Selain keterampilan teknis, kemampuan komunikasi lintas generasi juga menjadi perhatian. Rahma menilai pekerja perlu mampu berkomunikasi dengan rekan kerja maupun klien dari berbagai kelompok usia, tidak hanya dengan teman sebaya seperti ketika masih berada di lingkungan perkuliahan.

Karena itu, menurut Rahma, memiliki mentalitas untuk terus belajar atau lifelong learning menjadi bekal penting dalam menghadapi dunia kerja. Ia menilai IPK yang tinggi saja tidak cukup jika tidak disertai pengalaman, keterampilan, dan kemampuan beradaptasi.

“Kalau cuma mengandalkan IPK, kita tidak akan mendapatkan apa yang kita mau. Tapi kalau kita mau terus belajar, otomatis masih banyak jalan untuk menuju ke depan,” tegasnya.

Rahma juga mengingatkan mahasiswa agar tidak membatasi diri hanya pada bidang yang linier dengan program studi yang ditempuh. Menurutnya, berbagai peluang pekerjaan dapat muncul dari bidang yang sebelumnya tidak direncanakan.

“Jangan hanya mengejar apa yang linier dengan apa yang dikuliahkan. Terbukalah dengan kesempatan baru, karena belum tentu apa yang kalian pelajari hari ini akan menjadi pekerjaan kalian di masa depan,” ucap Rahma.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....