Menag Nazaruddin Umar: Al-Qur’an Semakin Banyak Dikaji termasuk oleh Non-Muslim

  • 12 Sep 2026 22:11 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Menteri Agama, Prof. Dr. Nazaruddin Umar mengatakan minat untuk mengkaji dan mendalami Al-Qur’an terus meningkat. Ketertarikan tersebut tidak hanya datang dari umat Islam, tetapi juga dari kalangan non-Muslim dan para peneliti sains.

Nazaruddin mengungkapkan, Al-Qur’an menyimpan banyak ayat yang berkaitan dengan fenomena alam atau ayat-ayat kauniyah. Kandungan tersebut dinilai memiliki potensi besar untuk terus diteliti dan dikaji dari berbagai perspektif keilmuan.

“Semakin banyak orang yang tertarik untuk mengkaji dan mendalami Al-Qur’an. Bukan hanya umat Islam, tetapi non-Muslim pun sekarang ramai-ramai tertarik mengkaji Al-Qur’an,” katanya dalam tausiah Khataman Akbar dan Silaturahmi Ahlul Quran Se-Jateng di Auditorium Unissula Semarang pada Sabtu, 12 September 2026..

Ia menyebut adanya publikasi di Amerika Serikat yang menyatakan Al-Qur’an termasuk kitab suci yang paling sering dibawa ke laboratorium ilmiah untuk diteliti. Banyak hal dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang selama ini belum digali secara optimal oleh para peneliti.

“Terutama ayat-ayat kauniyah yang menurutnya banyak ditemukan dalam kisah-kisah Al-Qur’an atau qashashul Qur’an,” ungkapnya.

Ia menyebut sekitar tiga perempat isi Al-Qur’an berkaitan dengan kisah. Salah satu kisah terpanjang adalah kisah Nabi Yusuf. Sementara kisah penciptaan Adam dan Hawa juga disebut berulang dalam sejumlah konteks berbeda.

“Banyak sekali kisah-kisah yang sangat penting, ternyata ditemukan rahasianya oleh mereka-mereka yang non-Muslim,” ujarnya.

Nazaruddin juga menyoroti tingginya ketertarikan terhadap Al-Qur’an di Amerika dan Eropa. Menurut dia, Al-Qur’an dibaca oleh berbagai kalangan, termasuk mereka yang mencintai maupun yang mengkritiknya.

“Baik yang mencintai Al-Qur’an maupun yang membenci Al-Qur’an, sama-sama membeli Al-Qur’an,” katanya.

Bagi Nazaruddin, fenomena tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa Al-Qur’an memiliki daya tarik yang kuat dan terus mengundang manusia untuk mempelajarinya.

Ia kemudian menjelaskan bahwa Al-Qur’an dapat dipahami dalam dua dimensi, yakni sebagai kitabullah dan kalamullah.

Sebagai kitabullah, Al-Qur’an adalah wahyu yang telah diturunkan secara bertahap melalui Malaikat Jibril dan kemudian dihimpun dalam bentuk mushaf, termasuk Mushaf Utsmani yang menjadi rujukan umat Islam hingga kini.

“Al-Qur’an sebagai kitabullah itulah yang menjadi petunjuk bagi umat manusia,” jelasnya.

Menurut Nazaruddin, setiap orang memiliki kesempatan untuk membaca dan mempelajari Al-Qur’an sebagai kitabullah.

Namun, ia mengatakan terdapat dimensi lain yang lebih dalam, yakni Al-Qur’an sebagai kalamullah. Dimensi ini, menurutnya, berkaitan dengan kedalaman makna, karamah, barakah, serta isyarat yang terkandung di dalam Al-Qur’an.

Ia mengutip Surah Al-Baqarah ayat 2, “Dzalikal kitabu la raiba fihi hudan lil muttaqin.” Nazaruddin menekankan kata dzalika yang berarti “itu”, sebagai sesuatu yang berada pada dimensi yang lebih jauh.

Menurut dia, pemahaman terhadap Al-Qur’an pada tingkat tersebut tidak dapat dicapai hanya dengan kemampuan membaca, tetapi membutuhkan ketakwaan dan kesungguhan dalam mendalaminya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....