IDI dan PMI Cabang Kudus Gelar Seminar Kesehatan Nasional

  • 05 Sep 2026 14:30 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Kudus - Bertempat di Hotel @Hom Kudus, Sabtu, 5 September 2026 berlangsung seminar Kesehatan nasional. Acara yang digagas oleh IDI dan PMI cabang Kudus ini mengambil tema “Optimalisasi Pemanfaatan Plasma Darah Dalam Mendukung Pelayanan Klinis di Rumah Sakit.”

Dalam acara ini menghadirkan tiga narsum yakni dr. Robby Nur Aditya, M.Si, Dr. dr. Damai Santoso, Sp.PD-Khom serta Dr. Irma Zaimatuddunia, S.PD, M.Sc. Ketua IDI Kudus, dr. Wahyu Wijanarko, Sp. B, Msi.Med mengatakan, plasma darah dinilai memiliki peran penting dalam mendukung optimalisasi pelayanan klinis di rumah sakit.

Kebutuhan plasma di Indonesia yang cukup besar juga mendorong perlunya penguatan fasilitas pengolahan dan pemanfaatan plasma untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), kebutuhan plasma di Indonesia mencapai sekitar 1 juta liter per tahun.

"Besarnya kebutuhan tersebut membutuhkan dukungan fasilitas fraksionasi plasma agar plasma darah dapat diolah dan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan,” ujar Wahyu.

Sebagai salah satu pengguna plasma darah dalam pelayanan kesehatan, pihaknya menegaskan komitmen untuk terus meningkatkan pengetahuan dan kompetensi para anggotanya. Hal tersebut dilakukan agar pemanfaatan plasma darah dapat mendukung pelayanan kepada pasien secara optimal.

Sementara ketua PMI cabang Kudus Revlisianto Subekti mengatakan selama ini, PMI dikenal masyarakat sebagai lembaga yang bergerak dalam pelayanan darah, donor darah, serta berbagai kegiatan kemanusiaan. Namun, perkembangan tantangan di bidang pelayanan kesehatan membuat PMI dituntut untuk terus meningkatkan kapasitas, teknologi, kualitas sumber daya manusia, serta tata kelola pelayanan darah

Menurutnya, kehadiran alat pengolah plasma darah di Kabupaten Kudus menjadi langkah strategis dalam meningkatkan nilai manfaat pelayanan darah.

“Kita tentunya ingin tidak tertinggal dari Semarang, Banyumas maupun Solo yang sudah CPOB. Harapannya di Kudus bisa meng-cover kawasan bagian timur,” katanya.

Ia menegaskan, alat yang telah diberikan tersebut tidak boleh hanya menjadi aset bernilai tinggi yang kemudian tersimpan tanpa dimanfaatkan secara maksimal. Fasilitas tersebut harus mampu menjadi bagian dari pelayanan yang produktif, aman, berkualitas, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Sedangkan ketua PMI Provinsi Jateng dr. H. Hartanto menegaskan saat ini belum semua UDD PMI memiliki kemampuan untuk melakukan pengolahan plasma sesuai standar CPOB. Karena itu, dalam pembinaan, PMI Provinsi Jawa Tengah menggandeng UDD yang telah memiliki kemampuan dan standar tersebut.

“Untuk bisa mengolah plasma dengan baik itu memang harus CPOB, Cara Pembuatan Obat yang Baik. Untuk itu memerlukan alat dan proses yang tidak mudah. Sedangkan UDD PMI Provinsi sendiri belum mampu,” ungkapnya.

Selama ini kata dia, pembinaan dilakukan bersama UDD yang telah memenuhi standar CPOB, di antaranya UDD PMI Kota Semarang, Kota Surakarta, dan Banyumas.

Dengan adanya fasilitas pengolah plasma di Kudus, pihaknya menyambut baik rencana menjadikan Kudus sebagai salah satu pusat pengolahan plasma yang dapat mendukung wilayah Jawa Tengah bagian timur.

Sementara itu narasumber dari RS. Karyadi Semarang, Dr. dr. Damai Santoso menjelaskan Plasma memiliki peran penting, terutama berkaitan dengan proses pembekuan darah karena di dalamnya terdapat berbagai faktor pembekuan.

“Plasma itu penting untuk pembekuan darah. Darah itu kan ada bagian padat dan bagian cair. Plasma itu bagian cair yang memiliki faktor-faktor pembekuan,” jelasnya.

Dikatakan, plasma dapat diberikan kepada pasien dengan gangguan pembekuan darah atau kondisi tertentu yang menyebabkan proses pembekuan berlangsung lebih lama. Salah satunya pada pasien yang mengalami perdarahan dengan gangguan koagulasi. Selain itu, plasma juga dapat diproses lebih lanjut untuk menghasilkan berbagai faktor pembekuan yang dibutuhkan pasien dengan penyakit tertentu, termasuk hemofilia.

Dengan alat baru tersebut, PMI Kudus kini juga telah dapat membuat Fresh Frozen Plasma (FFP). Sebelumnya, kebutuhan FFP harus mengambil dari Semarang. Dalam acara ini diikuti oleh para direktur rumah sakit se Kabupaten Kudus, Pati, Demak dan Jepara. Dan acara ini juga dilaksanakan melalui off air maupun on air (zoom). (RK)

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....