Prof Jamari Kembangkan Implan Panggul Sesuai Anatomi dan Gerak Orang Indonesia
- 01 Sep 2026 15:47 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Siapa menyangka, ilmu tentang gesekan dapat membantu seseorang berjalan lebih nyaman, menjalani perawatan kesehatan, bahkan tetap melakukan gerakan ibadah setelah menggunakan implan panggul. Pertanyaan itu menjadi salah satu bahasan menarik bersama Prof. Dr. Ir. Jamari, S.T., M.T., IPU., ASEAN Eng., Guru Besar Teknik Mesin sekaligus Dekan Fakultas Teknik Universitas Diponegoro (Undip).
Prof. Jamari dikenal sebagai pakar tribology bereputasi internasional dan Tribologi sendiri merupakan sub-disiplin ilmu teknik mesin yang fokus mempelajari gesekan, keausan, dan pelumasan berlandaskan mekanika kontak. Dari bidang yang sangat teknis tersebut, Prof. Jamari bersama tim mengembangkan teknologi kesehatan melalui Undip Biomechanics Engineering and Research Center (UBM-ERC) dimana kini tumbuh sebagai salah satu pusat riset tribologi terbesar di Tanah Air yang mengkombinasikan prinsip mekanika tribologi dengan anatomi tubuh manusia.
Gagasan menghadirkan alat medis berstandar tinggi ini bermula dari kepulangan Prof. Jamari usai menyelesaikan studi doktornya di Belanda. Berbekal pemahaman mendalam tentang mekanika kontak bantalan (bearing), ia enggan membiarkan ilmunya mengendap dalam batas-batas teori yang jauh dari realitas sosial. Riset yang didukung perusahaan SKF itu membawanya mendalami teori fundamental mengenai kontak mekanis.
Geometri implan buatan Barat cenderung terlalu besar untuk struktur panggul masyarakat Asia, sehingga berisiko mengikis terlalu banyak bagian tulang asli pasien. Selain aspek fisik, implan konvensional tidak dirancang untuk mengakomodasi fleksibilitas gerakan ekstrem, seperti posisi duduk tasyahud akhir saat salat yang rentan memicu dislokasi implan.
Kesenjangan teknologi inilah yang memicu tim UBM-ERC Undip merancang dual mobility total hip prosthesis atau sambungan tulang panggul buatan yang mempertimbangkan anatomi dan kebutuhan gerak masyarakat Indonesia. “Bisa enggak kita mendesain sambungan tulang panggul yang bisa digunakan untuk salat dan cocok untuk orang Indonesia?” tutur Prof. Jamari dalam keterangan tertulis Senin 31 Agustus 2026.
Kajian dasarnya telah dimulai sejak 2007 dan terus berkembang melalui beberapa generasi desain. Hasilnya, pasien penderita kerusakan sendi panggul dapat kembali beraktivitas dengan nyaman tanpa harus kehilangan momentum beribadah maupun membatasi gerak tubuh secara drastis.
Keberhasilan ini tak lepas dari kolaborasi lintas disiplin yang kokoh antara kepakaran teknik mesin, keahlian anatomi dari Fakultas Kedokteran Undip, hingga mitra manufaktur seperti ATMI Solo dan Unika Atma Jaya Yogyakarta. Sinergi multipihak ini memastikan bahwa setiap tahapan riset mulai dari simulasi numerik in-silico, uji in-vitro, hingga uji in-vivo memenuhi standar keamanan klinis terketat.
Perjalanan riset tersebut mengantarkan Prof. Jamari memperoleh Science and Technology Award 2025 dari Indonesia Toray Science Foundation (ITSF). Penghargaan yang diberikan pada awal 2026 itu menilai aspek scientific breakthrough, termasuk perjalanan sebuah gagasan sejak tahap awal hingga perkembangan risetnya.
Di balik capaian tersebut, ada filosofi sederhana yang terus dipegang Prof. Jamari: khoirunnas anfauhum linnas, yakni sebaik-baik manusia adalah yang memberi manfaat bagi sesamanya. Prinsip itu ia dapatkan sejak kecil dari guru mengajinya dan kemudian ia bawa dalam perjalanan sebagai dosen dan peneliti.
Kini, semangat tersebut diterapkan bersama tim yang terdiri atas mahasiswa S1, S2, dan S3, serta para professor yang bekerja mengembangkan riset sekaligus mencari peluang pendanaan agar penelitian dapat terus berjalan. Pesan tersebut juga tercermin dari cara Prof. Jamari membangun kelompok risetnya. Ia mendorong budaya kerja yang ramah, egaliter dan saling mendukung.
Pengalaman selama menempuh studi di Eropa memperlihatkan kepadanya pentingnya seorang profesor terlibat langsung mendampingi mahasiswa, termasuk dalam eksperimen dan penulisan karya ilmiah. Pola itu kemudian ia bawa ke lingkungan riset UBM-ERC. Prinsip pendampingan berkelanjutan berhasil mengantarkannya meluluskan lebih dari 30 doktor, dimana tujuh di antaranya telah dikukuhkan sebagai guru besar.
Dalam hal tata kelola riset, Prof. Jamari secara tegas menghindari kepemimpinan gaya “tukang bakso keliling” yang cenderung memborong seluruh peran seorang diri. Kepemimpinan modern menuntut keberanian membangun kepercayaan serta mendelegasikan peran secara profesional.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....