Unwahas Terapkan Smart Farming IoT, Tingkatkan Produksi Melon Hidroponik

  • 29 Agt 2026 14:05 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) menyerahkan alat monitoring dan auto dosing nutrisi berbasis Internet of Things (IoT) kepada Newasena Farm, Kelurahan Meteseh, Tembalang, Kota Semarang. Teknologi tersebut menjadi bagian dari implementasi smart farming untuk menjaga stabilitas nutrisi sekaligus meningkatkan kualitas dan produktivitas melon hidroponik.

Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Wahid Hasyim menyerahkan Alat untuk monitoring dan auto dosing nutrisi berbasis Internet of Things (IoT) kepada Newasena Farm di Kelurahan Meteseh, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. Penyerahan alat ini menandai dimulainya implementasi teknologi smart farming untuk meningkatkan stabilitas produksi melon hidroponik.

Ketua Tim Pengabdian, Rony Wijanarko, S.Kom., M.Kom., menjelaskan bahwa sistem yang dikembangkan ini dirancang khusus untuk memantau parameter kritis larutan nutrisi seperti pH, Total Dissolved Solids (TDS), dan suhu green house dan suhu air secara real-time.

"Sebelumnya, pemantauan dilakukan manual dengan alat portable yang tidak bisa mendeteksi perubahan secara kontinu. Dengan sistem IoT ini, petani bisa memantau kondisi nutrisi dari smartphone mereka kapan saja dan di mana saja,".katanya dalam siaran pers Sabtu 29 Agustus 2026.

Sistem ini dilengkapi dengan fitur auto dosing yang secara otomatis menambahkan larutan penyesuai pH dan nutrisi ketika nilai pH atau TDS berada di luar rentang optimal, yaitu pH 5,5-6,5 dan TDS 1500-2000 ppm. Teknologi ini menggunakan mikrokontroler ESP32 yang terintegrasi dengan sensor-sensor presisi dan pompa dosing otomatis untuk menjaga kestabilan kualitas larutan nutrisi.

Anggota Tim Pengabdian, Istanto, S.P., M.Si., menjelaskan bahwa teknologi ini hadir untuk memodernisasi pertanian dan meningkatkan hasil panen, terutama dengan kemampuannya menjaga kestabilan nutrisi di dalam tandon berkapasitas 1.500 liter agar tidak mudah berubah drastis saat diserap oleh tanaman. Berdasarkan hasil pengujian, sistem ini menunjukkan kinerja yang menggembirakan.

Deviasi akurasi sensor pH berada pada kisaran ±0,2, memenuhi standar presisi untuk aplikasi hidroponik komersial. Sistem ini mampu mempertahankan pH pada rentang optimal sepanjang waktu operasional, meningkat signifikan dibandingkan dengan pengelolaan manual sebelumnya.

"Efisiensi waktu monitoring juga meningkat hingga karena petani tidak perlu lagi mengecek kondisi tandon secara fisik berkali-kali dalam sehari," ungkapnya. .

Dalam acara serah terima ini, tim pengabdian juga melakukan pendampingan intensif kepada pengelola Newasena Farm dalam pengoperasian sistem. Pelatihan mencakup cara membaca dashboard monitoring, interpretasi data real-time, prosedur kalibrasi sensor, dan troubleshooting dasar.

Rony menambahkan bahwa keberlanjutan program menjadi prioritas utama. "Kami tidak hanya menyerahkan alat, tetapi juga memastikan mitra mampu mengoperasikannya secara mandiri. Lebih dari 80% pengelola telah kami latih dan mampu menggunakan sistem ini," tegasnya.

Sistem yang dikembangkan ini memiliki potensi replikasi yang tinggi untuk diterapkan pada komoditas hortikultura lainnya. Tim pengabdian berharap teknologi ini dapat menjadi model percontohan smart farming yang adaptif dan berkelanjutan untuk pertanian perkotaan.

Pengelola Newasena Farm, Faisol menyambut baik penerapan teknologi ini. Pihaknya sangat antusias dengan sistem ini.

“Dengan monitoring yang lebih baik, kami berharap kualitas dan produktivitas melon hidroponik kami bisa meningkat. Buah yang dihasilkan juga lebih seragam dan memenuhi standar pasar modern," ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....