Upacara Wisuda UIN Walisongo Diwarnai Kisah Haru Pengorbanan Orang Tua
- 23 Agt 2026 13:35 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Suasana haru, bangga, dan puncaknya rasa syukur menyelimuti Auditorium Kampus 3 UIN Walisongo Semarang pada Sabtu 22 Agustus 2026. UIN Walisongo Semarang menggelar prosesi Wisuda Program Doktor (S.3) ke-43, Program Magister (S.2) ke-68, dan Sarjana (S.1) ke-101 Periode Agustus 2026 yang terbagi dalam dua sesi (Sesi Pagi dan Sesi Siang).
Rektor UIN Walisongo, Prof Dr Mashadi menegaskan bahwa wisuda bukan sekadar seremoni, melainkan panggung kemenangan atas perjuangan panjang yang diasah oleh ketekunan dan kesabaran. Wisuda bukanlah garis akhir perjalanan, melainkan pintu gerbang menuju babak baru kehidupan.
“Ingatlah, ijazah yang saudara genggam bukan hanya bukti otentik selesainya pendidikan tinggi, tetapi amanah untuk membawa ilmu, nilai, dan integritas ke tengah masyarakat. Jadilah manusia pembelajar sepanjang hayat yang tak hanya siap menghadapi perubahan, tetapi sanggup memimpin perubahan itu," tegasnya.
Rektor juga memaparkan komitmen mutu institusi UIN Walisongo Semarang yang saat ini mengelola 55 program studi. Di mana 37 Prodi telah berakreditasi Unggul dan 38 Prodi menjalani akreditasi internasional oleh ACQUIN.
Kisah 4 Wisudawan Tangguh: Menembus Keterbatasan Ekonomi
Prosesi wisuda kian menyentuh saat Rektor membagikan kisah perjuangan wisudawan terbaik yang berhasil bangkit di tengah keterbatasan.
Yuda Agustian (FITK): Anak buruh dan tani dari pelosok Tasikmalaya yang merantau dan membiayai kuliahnya secara mandiri. Yuda melakoni berbagai pekerjaan paruh waktu, mulai dari karyawan toko, barista, instruktur pramuka, hingga membantu membersihkan rumah dosen demi membayar biaya kuliah.
Nurina Zain (FDK): Putri pembuat marning jagung asal Wonosobo yang sempat gap year dua tahun. Melalui beasiswa KIP-Kuliah dan konsistensi bekerja setiap liburan semester, Zain membuktikan kegigihannya hingga berhasil meraih gelar sarjana.
Muhammad Rizal Firdaus (FSH): Pemuda asal Bangka Belitung yang orang tuanya rela menjual satu-satunya sepeda motor demi biaya awal kuliah. Di tanah rantau, Rizal bertahan hidup dengan mengajar mengaji hingga berhasil menjadi sarjana pertama di keluarganya.
"Di balik toga yang mereka kenakan, terdapat doa, peluh orang tua, dan air mata perjuangan," puji Rektor.
Rektor berharap agar seluruh lulusan menjadi generasi hebat, tangguh, bermanfaat, dan menjadi "menantu idaman" bagi masyarakat. “Saudara-saudara harus meneguhkan diri menjadi global student, menjadi mahasiswa dunia. Manfaatkan network, internet, dan instrumen online untuk berjejaring dan berkompetisi secara global," serunya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....