Wajah Baru Angkringan Family, Sentuhan Branding Bawa UMKM Kedunggading Naik Kelas

  • 15 Agt 2026 16:45 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Kendal - Tim II KKN Reguler Universitas Diponegoro (Undip) tahun 2026/2027 mendampingi Warung Angkringan Family, salah satu UMKM di Desa Kedunggading, Kecamatan Ringinarum, Kabupaten Kendal melalui pengembangan identitas visual usaha. Program kerja kolaboratif ini bertujuan mendukung peningkatan daya saing UMKM lokal melalui penguatan identitas usaha dan media promosi yang lebih menarik.

Adapun, tema yang diangkat Penguatan Potensi Ekonomi dan Sistem Informasi Desa melalui Pemetaan Potensi Wilayah dan Pengembangan UMKM. Mahasiswa Program Studi Bisnis Digital, Undip, Mahesha Gusti Rakasiwi merancang banner berukuran besar (MMT) yang berfungsi sebagai media promosi sekaligus katalog menu Angkringan Family.

Banner tersebut dirancang dengan tampilan yang informatif dan menarik sehingga memudahkan pelanggan melihat pilihan menu sekaligus meningkatkan daya tarik usaha. "Di era ekonomi ini, sebuah pelaku usaha tidak hanya dinilai dari segi kualitas produknya, tetapi juga dilihat dari segi bagaimana usaha tersebut memperkenalkan identitasnya," ujar Mahesha.

Menurut dia, branding atau penjenamaan menjadi salah satu faktor penting untuk membangun kesan pertama yang baik sekaligus membedakan diri dari kompetitor. Identitas visual yang jelas dapat membantu suatu usaha lebih mudah dikenali, diingat, dan memiliki nilai tambah di tengah persaingan yang semakin berkembang.

Mahasiswa Program Studi Informasi dan Humas, Undip, Anisa Azahra mendesain logo terbaru Angkringan Family sebagai identitas visual yang lebih modern dan mudah dikenali oleh masyarakat. "Harapan kami, logo baru ini mampu memperkuat citra usaha sehingga lebih profesional dan memiliki karakter yang khas," ujarnya.

Melengkapi upaya branding tersebut, mahasiswa Program Studi Sastra Inggris, Undip, Najwa Khoirunnisa menyusun tagline yang mencerminkan identitas dan nilai yang ingin ditampilkan oleh Angkringan Family. Tagline yang dipilih adalah “Mangan enak, rega penak” yang berarti makan enak, harga enak dalam Bahasa Indonesia tersebut dirancang agar mudah diingat oleh konsumen, memperkuat pesan usaha, serta menjadi bagian dari strategi promosi yang konsisten.

Najwa mengungkapkan, luaran dari program kerja kolaboratif ini berupa banner promosi yang terintegrasi dengan katalog menu, yang nantinya akan dipasang di lokasi Angkringan Family sebagai media promosi utama. Kehadiran media promosi tersebut diharapkan dapat meningkatkan visibilitas usaha, menarik minat pelanggan, serta mendukung perkembangan UMKM Desa Kedunggading.

Melalui sinergi lintas disiplin ini, pihaknya berharap kontribusi mahasiswa Undip yang diberikan tidak hanya menghasilkan luaran fisik berupa media promosi. Namun juga membantu pelaku UMKM membangun identitas usaha yang lebih kuat sehingga mampu bersaing dan berkembang secara berkelanjutan.

Ia menjelaskan, program kerja ini turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) ke-8, yaitu Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, melalui upaya penguatan UMKM lokal agar memiliki identitas usaha dan daya saing yang lebih baik. Selain itu, program ini juga sejalan dengan SDGs ke-9, yaitu Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, melalui penerapan inovasi dalam pembuatan banner, katalog menu, logo, dan tagline sebagai media promosi yang lebih menarik dan informatif.

Menurutnya, program kolaborasi ini dilaksanakan pada UMKM Angkringan Family, salah satu usaha kuliner yang sudah turun temurun dari keluarga Muhammad Zahus. Tiga mahasiswa dari disiplin ilmu yang berbeda berkolaborasi sesuai dengan bidang keahliannya untuk menghasilkan inovasi branding yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh pelaku usaha.

Sebelum dilakukan pendampingan, warung milik Muhammad Zahus, warga Dusun Tapak Barat, Desa Kedunggading ini belum memiliki identitas visual yang konsisten. Seperti halnya logo, banner usaha, maupun tagline yang dapat memperkuat citra usaha di mata masyarakat.

“Kami dulu ada banner, cuma rusak karena kena angin. Kalau menu, kami memang sengaja nggak bikin karena harga makanannya fleksibel mengikuti permintaan konsumen. Warga sini biasanya begitu,” ucap Zahus dalam wawancara survei, baru-baru ini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....