AI Makin Canggih, Pelajar Perlu Waspadai Deepfake hingga Manipulasi Identitas

  • 13 Agt 2026 17:23 WIB
  •  Semarang
Poin Utama
  • Teknologi AI generatif dapat membuat konten yang menyerupai kondisi atau identitas asli, membuka peluang penyalahgunaan jika tidak digunakan dengan bertanggung jawab.
  • Pelajar perlu memahami risiko penggunaan AI terutama terkait deepfake, manipulasi identitas, pelanggaran privasi, dan pencemaran nama baik.
  • Jika digunakan secara tidak bertanggung jawab, AI generatif dapat dimanfaatkan untuk penipuan dan penyebaran informasi palsu yang merugikan masyarakat.

RRI.CO.ID, Semarang - Kemudahan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam menghasilkan gambar, video, dan suara perlu diikuti kewaspadaan terhadap potensi penyalahgunaan. Pelajar diminta memahami risiko penggunaan AI, terutama terkait deepfake, manipulasi identitas, privasi, dan pencemaran nama baik.

Dekan Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Digital (FIKOMDIGI) Unimus Semarang, , Dr. Muhammad Munsarif, S.Kom, M. Kom, Ph.D, P. Ma mengatakan, kemampuan AI generatif saat ini memungkinkan seseorang membuat konten yang menyerupai kondisi atau identitas asli. Jika digunakan secara tidak bertanggung jawab, teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk penipuan maupun penyebaran informasi palsu.

“Yang paling kasar misalnya penipuan, memanipulasi identitas. 'Kan sekarang sangat mudah itu,” katanya saat diwawancarai RRI, Kamis 13 Agustus 2026.

Menurutnya, penggunaan teknologi untuk membuat suara, gambar, atau konten palsu perlu menjadi perhatian serius. Pelajar harus memahami bahwa kemudahan membuat konten menggunakan AI tidak berarti bebas dari konsekuensi etika maupun hukum.

“Bahkan menggunakan deepfake, menggunakan suara palsu, konten palsu. Itu juga sering digunakan,” katanya.

Selain deepfake dan manipulasi identitas, Munsyarif mengingatkan pelajar mengenai persoalan privasi dan reputasi seseorang. Data pribadi maupun informasi tentang orang lain tidak boleh digunakan secara sembarangan dalam pemanfaatan AI.

“Yang pertama adalah masalah privasi. Itu ada data, ada hak kita, kemudian pencemaran nama baik atau merusak reputasi nama seseorang,” jelasnya.

Ia menilai pemahaman mengenai risiko tersebut menjadi tanggung jawab bersama. Guru, sekolah, dan berbagai pihak perlu memberikan literasi kepada pelajar agar mampu menggunakan AI secara aman dan bertanggung jawab.

Ia juga menekankan, penggunaan AI tidak boleh diarahkan untuk mengambil hak orang lain, melakukan penipuan, maupun menghasilkan konten yang bertentangan dengan nilai hukum. Menurutnya, generasi muda perlu dibekali kemampuan menggunakan AI secara bertanggung jawab, sehingga kemajuan teknologi dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan karya kreatif dan inovatif tanpa merugikan orang lain.

“Bagaimana kita memperluas kreativitas kita itu. Bukan mengambil hak orang lain, bukan menipu, bukan menggunakan, melanggar hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai hukum,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....