Beasiswa Santri Jateng Antar Aqila Tempuh Pendidikan di Kedokteran Gigi Undip

  • 12 Agt 2026 18:10 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Program beasiswa santri yang digulirkan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah membuka jalan bagi santri untuk menembus perguruan tinggi impian. Salah satunya dirasakan Aqila Keisha Haulina, santri asal Kudus yang kini bisa menempuh pendidikan Kedokteran Gigi di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.

Bagi Aqila, beasiswa tersebut bukan sekadar bantuan biaya pendidikan, melainkan kesempatan untuk mewujudkan cita-cita yang sempat terkendala persoalan ekonomi. Program itu juga meringankan beban orang tuanya dalam membiayai kuliah.

Aqila memiliki latar belakang pendidikan pesantren yang kuat sejak menempuh pendidikan di MTs Tahfidz Yanbu'ul Qur'an 2 Muria. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di MA Mu'allimat NU Kudus sebelum berhasil lolos seleksi beasiswa santri tahun 2026.

Untuk memperoleh beasiswa tersebut, Aqila harus melalui serangkaian tahapan seleksi yang ketat. Mulai dari seleksi administrasi, membaca kitab, hafalan Al-Qur’an, hingga tes wawasan kebangsaan dan wawasan pesantren.

Sejak kecil, Aqila bercita-cita menjadi tenaga medis yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Melalui pendidikan kedokteran gigi, ia ingin mengabdikan diri dengan tetap berpegang pada nilai agama dan kemanusiaan.

“Saya berharap bisa menjadi dokter gigi yang adil, yang sungguh-sungguh, dan tidak melupakan ajaran agama yang sudah saya bawa sebelumnya dengan tetap menerapkan sisi kemanusiaan,” ujarnya saat acara Penyerahan dan Pembekalan Beasiswa Santri dan Pengasuh Pesantren Tahun 2026 di Semarang, Rabu 12 Agustus 2026.

Aqila mengapresiasi komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam membuka akses pendidikan tinggi bagi santri. Ia berharap program tersebut terus diperluas, baik dari sisi kuota penerima maupun pilihan jurusan yang tersedia.

Kelak, Aqila berencana mengabdikan ilmu yang diperolehnya di Pondok Pesantren El Fat El Islami Kudus. Ia juga mengajak para santri untuk berani bermimpi besar dan menempuh pendidikan di berbagai bidang keilmuan.

Kisah serupa juga dialami Akhmad Khafidz Al Mubarok yang menjadi penerima beasiswa luar negeri. Berkat program tersebut, ia dapat melanjutkan studi bidang Computer Science and Technology di Dalian University of Technology, China.

Khafidz mengaku bahagia karena kesempatan itu tidak hanya membantunya meraih impian, tetapi juga meringankan beban ekonomi keluarga. Ketertarikannya pada teknologi sejak kecil menjadi alasan utama memilih jurusan tersebut di salah satu negara pusat perkembangan teknologi dunia.

“Sangat bahagia karena bisa membantu perekonomian orang tua. Pilih jurusan computer science and technology karena dari kecil sudah minat dan ingin mendalaminya di salah satu pusat teknologi yaitu China,” katanya.

Program beasiswa santri dan pengasuh pesantren merupakan bagian dari Pesantren Obah yang digagas Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen. Beasiswa tersebut mencakup jenjang S1, S2, dan S3 di perguruan tinggi dalam maupun luar negeri melalui Lembaga Fasilitasi dan Sinergitas Pesantren (LFSP).

Pada tahun 2026, total hibah beasiswa yang disalurkan mencapai Rp8,34 miliar. Sebanyak 73 penerima memperoleh manfaat program tersebut, terdiri atas santri dan pengasuh pesantren dari berbagai daerah di Jawa Tengah.

Rinciannya, terdapat 15 penerima beasiswa luar negeri, 27 penerima beasiswa dalam negeri untuk santri, serta 31 penerima beasiswa dalam negeri untuk pengasuh pesantren. Penerima beasiswa luar negeri melanjutkan studi ke China, Mesir, Yaman, dan program double degree di berbagai bidang keilmuan.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan, santri memiliki keunggulan karena tidak hanya dibekali ilmu pengetahuan, tetapi juga nilai-nilai keagamaan dan toleransi. Karena itu, program beasiswa santri perlu terus diperluas agar semakin banyak santri mampu berkontribusi di berbagai sektor.

“Saya ngasih beasiswa ke kelompok mahasiswa itu biasa, tetapi santri ini luar biasa karena mempunyai nilai lebih dari yang bukan santri,” kata Luthfi.

Menurutnya, pemberdayaan pesantren harus menjadi gerakan bersama yang melibatkan pemerintah provinsi hingga kabupaten dan kota. Dengan demikian, manfaat program dapat menjangkau lebih banyak santri dan pesantren di seluruh Jawa Tengah.

Dalam kesempatan tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga menandatangani kesepahaman bersama dengan 24 Ma'had Aly. Kerja sama itu menjadi langkah untuk memperkuat pengembangan pendidikan tinggi berbasis pesantren di Jawa Tengah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....