Manfaatkan Lahan Sempit, UPGRIS Latih Warga Semarang Kembangkan Urban Farming
- 29 Jul 2026 16:34 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) melatih warga RT 01 RW III Kelurahan Bojongsalaman, Kecamatan Semarang Barat, mengembangkan urban farming di lahan sempit sebagai upaya mendukung ketahanan pangan keluarga. Program tersebut dipadukan dengan teknologi modern melalui konsep Smart Agro Fishery System yang mengintegrasikan pertanian dan perikanan perkotaan.
Ketua Tim Pengabdian UPGRIS, Reni Rakhmawati, S.Pd., M.Pd., mengatakan program tersebut bertujuan membentuk kelompok pertanian yang mampu berkembang secara mandiri. Menurutnya, masyarakat masih membutuhkan pendampingan agar mampu memanfaatkan urban farming dan perikanan perkotaan secara optimal.
"Tujuannya untuk membentuk suatu kelompok pertanian guna membangun dirinya agar lebih mandiri dan maju. Masyarakat belum memiliki pengetahuan dan pemahaman yang memadai tentang urban farming dan perikanan perkotaan. Sehingga ketahanan pangan, ekonomi rumah tangga, serta kelestarian lingkungan belum dapat dimanfaatkan secara optimal,"ujar Reni dalam siaran pers, Rabu, 29 Juli 2026.
Pelatihan bertajuk "Transformasi Digital: Solusi Pengembangan Sistem Terpadu untuk Mendukung Smart Agro Fishery System" digelar pada Minggu, 12 Juli 2026 lalu. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat Kemdiktisaintek Tahun Anggaran 2026 yang bekerja sama dengan LPPM UPGRIS.
Ia menjelaskan, pertumbuhan kawasan permukiman di wilayah perkotaan menyebabkan lahan kosong semakin terbatas karena banyak dialihfungsikan menjadi ruko, gudang, maupun fasilitas usaha. Kondisi tersebut mendorong perlunya inovasi pemanfaatan pekarangan melalui konsep urban farming.
Urban farming memungkinkan masyarakat bercocok tanam dan beternak di lahan terbatas. Selain memenuhi kebutuhan pangan keluarga, kegiatan ini juga berpotensi meningkatkan pendapatan sekaligus mendukung kelestarian lingkungan.
Dalam program tersebut, tim yang terdiri atas Ir. Slamet Budirahardjo, S.T., M.T. bersama mahasiswa merancang sistem urban farming dan perikanan perkotaan melalui pembangunan dua kolam terpal yang dipadukan dengan vertical garden. Desain tersebut memungkinkan lahan sempit dimanfaatkan secara lebih produktif.
Sementara itu, Ir. Bambang Hadi Kunaryo, S.T., M.T. mengembangkan teknologi Internet of Things (IoT) untuk mendukung sistem budidaya. Teknologi tersebut digunakan untuk memantau kualitas air, suhu, dan tingkat keasaman (pH) kolam ikan secara otomatis dan real-time.
"Sehingga mitra dapat melihat dan memanfaatkan langsung manfaat IoT dengan model Smart Agro Fishery System yang lebih efisien. Setelah pendanaan, program yang dilakukan adalah mengawali dengan sosialisasi ke warga, kemudian pemasangan kolam terpal sebanyak dua kolam," jelasnya.
Kolam hasil pengembangan bersama warga diberi nama Kolam LAMLELAS (Kolam Lele Sebelas). Program tersebut juga disertai penyaluran benih lele beserta pakan selama tiga bulan dan mendapat sambutan positif dari masyarakat.
Program pengabdian juga akan ditutup dengan pembentukan Kelompok Wanita Tani (KWT) MELATI sebagai wadah pemberdayaan perempuan di sektor pertanian. Melalui kelompok tersebut, para anggota diharapkan dapat saling belajar, bertukar pengalaman, serta meningkatkan keterampilan dan kesejahteraan keluarga.
Lurah Bojongsalaman, Suryono menilai program tersebut mampu menghadirkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Menurutnya, pemanfaatan lahan terbatas dapat menjadi salah satu upaya memperkuat ketahanan pangan di lingkungan perkotaan.
"Terima kasih kepada tim Pengabdian UPGRIS. Semoga kegiatan ini akan terus berlanjut sehingga manfaat yang akan dirasakan semakin luas," ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....