Perencana Kota Masa Depan Dituntut Kuasai AI dan Data Spasial
- 16 Jul 2026 17:26 WIB
- Semarang
Poin Utama
- Penguasaan AI dan analisis data spasial adalah kompetensi wajib bagi perencana wilayah dan kota di era digital untuk menghasilkan kebijakan pembangunan yang akurat dan berbasis data.
- Teknologi AI dan data open source memungkinkan perencana untuk memetakan aktivitas ekonomi, karakteristik wilayah, dan dinamika pembangunan secara komprehensif menggunakan model ekonometrika spasial.
- Digital twin city merupakan representasi digital kota yang dapat digunakan untuk menguji berbagai skenario kebijakan sebelum diterapkan di lapangan, memberikan dasar pengambilan keputusan yang terukur, efisien, dan adaptif.
RRI.CO.ID, Semarang – Penguasaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan analisis data spasial dinilai menjadi kompetensi yang wajib dimiliki para perencana wilayah dan kota di era digital. Kemampuan tersebut dibutuhkan untuk menghasilkan kebijakan pembangunan yang lebih akurat, adaptif, dan berbasis data.
Hal itu mengemuka dalam workshop "Computational Urban Economics for Digital Twin Cities" yang diselenggarakan Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Universitas Semarang (USM) secara hibrida di Oak Tree Emerald Semarang, Senin, 13 Juli 2026. Kegiatan diikuti dosen, mahasiswa, dan alumni PWK USM.
Narasumber workshop, dosen PWK Universitas Diponegoro, Dr. Sariffuddin, S.T., M.T., mengatakan perencanaan kota tidak lagi cukup mengandalkan pendekatan konvensional. Menurutnya, proses pengambilan keputusan harus didukung analisis berbasis data spasial yang mampu memetakan aktivitas ekonomi, karakteristik wilayah, hingga dinamika pembangunan secara lebih komprehensif.
"Pemanfaatan berbagai sumber data terbuka (open source) yang diolah melalui teknologi komputasi memungkinkan perencana memperoleh gambaran kondisi wilayah secara lebih komprehensif. Data tersebut kemudian dapat dianalisis menggunakan model ekonometrika spasial untuk mengidentifikasi pola pertumbuhan, ketimpangan, maupun potensi pengembangan suatu kawasan," katanya melalui keterangan tertulis, Kamis, 16 Juli 2026.
Ia menjelaskan, kecerdasan buatan mampu meningkatkan kecepatan dan ketepatan analisis dalam perencanaan wilayah. Teknologi tersebut menjadi fondasi pengembangan digital twin city, yakni representasi digital sebuah kota yang dapat digunakan untuk menguji berbagai skenario kebijakan sebelum diterapkan di lapangan.
"Melalui pendekatan ini, perencanaan tidak lagi hanya bersifat prediktif. Akan tetapi juga mampu memberikan dasar pengambilan keputusan yang lebih terukur, efisien, dan adaptif terhadap perubahan," ujarnya.
Ketua Program Studi PWK USM, Dr. Agus Sarwo Edy Sudrajat, S.T., M.T., mengatakan workshop tersebut merupakan langkah strategis untuk merespons perkembangan teknologi di bidang perencanaan wilayah dan kota. Ia berharap materi yang disampaikan dapat memperkuat kompetensi dosen, mahasiswa, maupun alumni.
"Pemahaman mengenai ekonometrika spasial dan kecerdasan buatan bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan kebutuhan wajib bagi perencana wilayah dan kota di era modern. Para dosen dapat mengintegrasikan materi mutakhir ini ke dalam kurikulum, sementara mahasiswa serta alumni didorong untuk terus memperbarui ilmu agar mampu melahirkan solusi penataan ruang yang cerdas, adaptif, dan berkelanjutan bagi masyarakat," ungkapnya.
Melalui workshop tersebut, USM berupaya menyiapkan calon perencana wilayah dan kota yang mampu memanfaatkan teknologi digital dalam mendukung pembangunan yang lebih efektif. Kompetensi di bidang AI dan analisis data spasial diharapkan menjadi bekal penting untuk menghadapi tantangan perencanaan kota di masa depan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....