Tren "Kondangan Akademik" Berisiko Timbulkan Tekanan Sosial di Kalangan Mahasiswa

  • 29 Jun 2026 14:15 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Semarang (Unnes) mengingatkan agar perayaan wisuda tidak identik dengan kemewahan. Organisasi mahasiswa tersebut menilai tren selebrasi kelulusan atau "kondangan akademik" yang semakin berlebihan berpotensi menimbulkan tekanan sosial, terutama bagi mahasiswa dengan keterbatasan ekonomi.

Kepala Departemen Medkominfo BEM FBS Unnes 2025, Kayla Amara Putri, mengatakan esensi kelulusan seharusnya menjadi bentuk syukur atas perjuangan menyelesaikan pendidikan. Menurutnya, perayaan wisuda tidak perlu dijadikan ajang mencari pengakuan melalui media sosial.

"Batas antara apresiasi kelulusan dan ajang pamer terletak pada esensinya. Syukuran seharusnya berfokus pada keluarga dan perjuangan selama kuliah, bukan mengejar validasi di media sosial melalui kemewahan buket atau dekorasi," katanya saat diwawancarai RRI Pro 1 Semarang, Senin, 29 Juni 2026.

Kayla menilai budaya wisuda yang semakin mewah justru memunculkan tekanan psikologis bagi sebagian mahasiswa. Tidak sedikit mahasiswa yang merasa minder atau terasing karena tidak mampu mengikuti standar perayaan yang dianggap ideal.

"Ironisnya, tren wisuda yang semakin jor-joran membuat sebagian mahasiswa merasa minder, terisolasi. Bahkan, memikul beban mental hanya karena tidak mampu mengimbangi standar perayaan yang mahal," ujarnya.

Selain itu, BEM FBS Unnes juga menyoroti adanya kontradiksi antara perjuangan mahasiswa menolak kenaikan Uang Kuliah Tunggal (UKT) dengan budaya konsumtif yang muncul saat musim wisuda. Menurut Kayla, pengeluaran besar demi gengsi pada satu hari perayaan tidak sejalan dengan semangat memperjuangkan pendidikan yang terjangkau.

"Kami melihat ada kontradiksi yang nyata. Advokasi penolakan kenaikan UKT diperjuangkan sebagai hak atas pendidikan yang terjangkau, tetapi di sisi lain muncul budaya konsumtif saat wisuda dengan menghabiskan banyak uang demi gengsi untuk satu hari," katanya.

Kayla berharap mahasiswa kembali memaknai kelulusan sebagai pencapaian akademik yang patut disyukuri bersama keluarga dan orang-orang terdekat. Dengan demikian, perayaan wisuda dapat berlangsung lebih sederhana, bermakna, dan tidak menjadi beban sosial maupun psikologis bagi siapa pun.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....