Ekspor Ikan Teri Nasi Binaan Undip Perkuat Ekonomi Warga Pesisir
- 29 Jun 2026 10:22 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID , Jepara- Keberhasilan ekspor ikan teri nasi ke Jepang dan Singapura yang dilakukan oleh CV Karimun Mina Sejahtera, mitra binaan Universitas Diponegoro (Undip), membuktikan daya saing produk perikanan lokal di pasar internasional. Di balik setiap pengiriman ekspor tersebut, terdapat ratusan masyarakat pesisir pantai utara Jawa (Pantura) yang kini memperoleh penghasilan, kesempatan kerja, serta perbaikan ekonomi melalui kepastian rantai pasok (supply chain) yang dibangun melalui kolaborasi antara Undip, industri, dan masyarakat.
Hingga Juni 2026, CV Karimun Mina Sejahtera telah melaksanakan ekspor ikan teri nasi sebanyak sembilan kali ke Jepang dan Singapura. Bekerja sama dengan Marutetsu Co., Ltd., perusahaan Jepang yang bergerak di bidang industri perikanan, Undip terus mengembangkan produk-produk hasil perikanan yang tujuan ekspor ke Pepang.
Rektor Universitas Diponegoro, Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si., menegaskan bahwa keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari jumlah ekspor yang berhasil dilakukan, tetapi juga dari manfaat yang diterima masyarakat. Program ini menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi internasional tidak hanya menghasilkan kontribusi akademik, tetapi juga menciptakan dampak sosial ekonomi yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Perguruan tinggi harus mampu menghadirkan dampak nyata. Keberhasilan sebuah inovasi bukan hanya diukur dari jumlah produk yang diekspor, tetapi juga dari seberapa besar manfaatnya bagi masyarakat. Program ini menunjukkan bagaimana riset, teknologi, dan kemitraan internasional dapat menciptakan peluang ekonomi baru bagi warga pesisir,” ujarnya melalui keterangan tertulis, Senin, 29 Juni 2026.
Program ekspor yang dijalankan melalui Marine Science Techno Park (MSTP) Undip Jepara saat ini melibatkan sekitar 100 kapal dari 1200 penangkap ikan yang beroperasi di Pantura terutama Jepara, Kendal, Rembang, dan Tuban. Setiap kapal dioperasikan sekitar 10 nelayan, sehingga sedikitnya 1.000 nelayan memperoleh manfaat ekonomi langsung dari program Undip ini.
Proses pengolahan ikan teri nasi juga menyerap sekitar 200 tenaga kerja yang sebagian besar merupakan perempuan dari wilayah pesisir Pantura yang terlibat dalam proses penyortiran, pembersihan, pengeringan, hingga penyiapan produk sesuai standar mutu ekspor. Sekitar 60 warga lainnya terlibat dalam kegiatan penilaian kualitas ikan, pengendalian mutu, serta pengemasan produk sebelum dikirim ke negara tujuan.
Secara keseluruhan, program ini memberikan manfaat ekonomi langsung kepada lebih dari 1.260 masyarakat pesisir yang terlibat dalam rantai pasok dan proses produksi. Salah satu dampak sosial ekonomi program ini adalah bagaimana masyarakat menjadi berdaya dan bisa melunasi hutang di koperasi.
Salah satu penerima manfaat program ini adalah Nasiul Aini, seorang janda lulusan SMP yang kini dipercaya sebagai Kepala Produksi di CV Karimun Mina Sejahtera. Ia bertanggung jawab mengawasi proses produksi hingga pengendalian kualitas produk ekspor.
“Alhamdulillah, pekerjaan ini sangat membantu ekonomi keluarga, saya bisa melunasi utang koperasi yang selama ini menjadi beban. Saya juga tidak menyangka bisa dipercaya menjadi kepala produksi dan terlibat dalam produk yang diekspor ke Jepang dan Singapura,” ujarnya.
Menurut Nasiul, program tersebut tidak hanya membuka lapangan pekerjaan bagi perempuan pesisir. Akan tetapi, juga memberikan kesempatan untuk belajar dan berkembang melalui berbagai pelatihan yang didampingi Undip.
Ia menegaskan, dampak program ini tidak hanya berhenti pada penciptaan lapangan kerja, tetapi juga keberhasilan ekspor yang berlangsung secara berkelanjutan ini juga memberikan kepastian tentang rantai pasok (supply chain). Hal ini membantu memberikan kepastian kepada nelayan terkait pembelian hasil tangkap mereka.
Direktur Utama CV Karimun Mina Sejahtera, Dwi Lestari, menjelaskan bahwa keberlanjutan ekspor telah memperkuat ekosistem ekonomi masyarakat pesisir. “Ketika permintaan ekspor berjalan secara konsisten, nelayan memiliki kepastian pasar, pekerja pengolahan memperoleh pekerjaan yang berkelanjutan, dan masyarakat pesisir mendapatkan manfaat ekonomi yang lebih stabil,’ ujarnya.
Program ini sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Khususnya, SDG 1 (Tanpa Kemiskinan), SDG 5 (Kesetaraan Gender), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), serta SDG 14 (Ekosistem Laut), melalui pengembangan industri perikanan yang berkelanjutan dan inklusif.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....