SD Islam Primadana Diduga Inkonsisten, Orang Tua Calon Murid Kecewa

  • 28 Jun 2026 16:22 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Senyum dan kecerian tiba-tiba menghilang diwajah anak perempuan berinisial VPA (6), saat mengetahui dirinya tidak diterima di SD Islam Primadana Semarang. Pasalnya, anak tersebut semula dinyatakan diterima oleh salah satu guru berinisial M yang melakukan observasi ketika mendaftar di SD Primadana pada Selasa 22 Juni 2026.

Dengan hasil itu, orang tua calon murid menceritakan kisah dari calon murid kepada guru yang melakukan observasi. Dengan harapan guru memahami dan mengetahui latar belakang dari calon murid tersebut.

“Setelah anak saya dilakukan observasi, secara lisan anak saya dinyatakan diterima oleh guru M. Saya menceritakan anak saya yang dulunya ketika di PAUD memiliki fokus pendek, sebagai orangtua saya terapikan untuk dapat bisa memiliki fokus panjang,” ungkap orang tua anak, Bowo Wiranto pada Minggu 27 Juni 2026.

Menurut dia, guru M juga menimpali bahwa pihak sekolah pernah ada murid yang mengidap ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder). Dengan adanya pengakuan tersebut, orang tua calon murid itu merasa yakin SD Primadana bisa mendidik anaknya dengan baik.

Kemudian, Bowo hendak menyelesaikan adminitrasi pembayaran dengan pihak sekolah, dan diminta untuk menghubungi Ketua penerimaan siswa baru SD Primadana. Ketika dihubungi via WA, panitia menanyakan surat telah diterima di SD Primadana dan diminta menunggu.

“Pada Rabu 23 Juni 2026, saya mendapatkan pesan WA dari pihak sekolah yang mengiformasikan di SD Islam Primadana memiliki 2 kurikulum yang mata pelajarannya sangat banyak, kurikulum Merdeka dan Kurikulum Mandiri. Dari hasil Observasi kesiapan belajar, alangkah lebih baik ananda VAP bisa di sekolahkan di sekolah yang mata pelajarannya lebih sedikit supaya lebih fokus,” terangnya.

Dari pesan tersebut, Bowo merasa bingung dengan ketidakjelasan SD Primadana pada penerimaan murid baru. Kemudian, ia mencoba menghubungi pihak sekolah dan guru yang melakukan observasi.

“Guru M menceritakan kepada ketua penerimaan siswa baru terkait anak saya. Intinya guru M meminta maaf kepada saya bahwa anak saya tidak diterima di SD Primadana,” ungkapnya.

Dengan pernyataan tersebut, orang tua calon murid merasa tambah bingung. Pihak sekolah memberi klarifikasi dengan memanggil otangtua calon murid ke sekolah.

“Murid di SD Primadana dari berbagai latar belakang, dan takutnya VPA mengganggu siswa lainnya. Pihak sekolah juga menyatakan VPA belum diterima karena belum ada surat resmi dari SD Primadana,” kata Ketua penerimaan siswa baru, Tri Agung saat pertemuan dengan orang tua VPA, Kamis 25 Juni 2026.

Dengan pernyatan tersebut, Bowo merasa sangat kecewa dengan inkonsistensi pihak sekolah dalam proses penerimaan siswa baru. Kemudian pada Sabtu 27 Juni 2026, orangtua calon murid dihubungi melalui telp WA yang menyatakan anak saya tidak diterima di SD Islam Primadana.

“Saya dihubungi pihak sekolah bahwa anak saya tidak diterima dan akan dikembalikan biaya pendaftarannya. Kemudian saya minta surat resmi tidak diterima di sekolah SD Primadana, namun hingga berita ini ditulis pihak sekolah belum memberikan surat tersebut,” ujarnya orang tua VPA tersebut.

Bowo berharap, pengalaman pahitnya ini tidak menimpa orang lain yang juga hendak menyekolahkan anaknya serta memberikan pendidikan baik bagi anaknya. Ia pun akhirnya harus menyekolahkan anaknya ke sekolah lainnya.

“Semoga pengalaman saya mencari sekolah yang terbaik tidak menimpa orang tua lainnya saat mencari sekolah bagi anaknya. Semoga SD Primadana masih mendapatkan kepercayaan masyarakat untuk pendidikan anak-anaknya,” ucapnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....