TPQ Assakinah Teman Tuli Pekalongan Akses Belajar Al-Qur'an Penyandang Tunarungu
- 20 Jun 2026 07:38 WIB
- Semarang
Poin Utama
- TPQ Assakinah Teman Tuli Pekalongan, Akses Belajar Al-Qur'an bagi Penyandang Tunarungu
- Pembelajaran Alquran Ramah Penyandang Tuna Rungu
RRI.CO.ID, Pekalongan – Di tengah masih terbatasnya akses pendidikan keagamaan bagi penyandang disabilitas. TPQ Assakinah Teman Tuli Kota Pekalongan hadir sebagai ruang belajar Al-Qur'an yang inklusif dan ramah bagi penyandang tunarungu. TPQ Teman Tuli ini mengembangkan metode pembelajaran berbasis bahasa isyarat.
Hal itu membuat para peserta didik dapat mempelajari huruf hijaiyah, membaca dan menulis Al-Qur'an, hingga memahami materi keislaman dengan lebih mudah sesuai kebutuhan mereka. Pimpinan TPQ Assakinah Teman Tuli, Nasrullah, mengatakan kegiatan belajar mengajar tersebut telah berlangsung sejak tahun 2024 dan saat ini berpusat di Kampus Batik ASTI, Jalan Hayam Wuruk, Pesindon Gang 3 Nomor 5A, Kota Pekalongan.
Menurutnya, setiap pekan para santri dan relawan berkumpul untuk mengikuti berbagai aktivitas pembelajaran yang dirancang secara khusus bagi teman tuli. Itu agar mereka dapat belajar agama dengan nyaman dan percaya diri.
"Selain mengajarkan kemampuan membaca Al-Qur'an, TPQ Assakinah juga membangun lingkungan belajar yang mendukung tumbuhnya rasa percaya diri dan kemandirian peserta didik dalam menjalankan ajaran agama," ujar Nasrullah, Sabtu 20 Juni 2026. TPQ Assakinah tidak hanya fokus pada pendidikan agama, tetapi juga membuka kelas kerelawanan bagi masyarakat umum yang ingin belajar sekaligus berinteraksi dengan komunitas tuli.
Ia menambahkan, keberadaan relawan menjadi salah satu faktor penting dalam keberlangsungan program tersebut. Para relawan mendampingi proses belajar melalui pendekatan visual, penggunaan bahasa isyarat, dan metode pembelajaran yang adaptif.
Salah satu relawan, Amallia, mengaku tertarik bergabung karena ingin berkontribusi dalam membuka akses pendidikan agama bagi penyandang tunarungu. Ia telah menjadi bagian dari TPQ Assakinah selama kurang lebih satu tahun.
Menurut Amallia, tantangan terbesar dalam pendampingan adalah bagaimana menciptakan metode yang mampu meningkatkan semangat belajar mengaji sekaligus membangun kepercayaan diri para santri.Peserta diperkenalkan dengan dasar-dasar bahasa isyarat dan pemahaman mengenai budaya tuli.
"Sehingga mereka mampu membangun komunikasi yang lebih setara dan inklusif. Kegiatan rutin biasanya dilaksanakan setiap hari Minggu mulai pukul 09.00 hingga 12.00 WIB," katanya.
Waktu pembelajaran tersebut dimanfaatkan untuk belajar Al-Qur'an dengan bahasa isyarat, pendampingan santri, serta penguatan kapasitas para relawan. Model pendidikan yang diterapkan menjadi bukti bahwa keterbatasan pendengaran bukanlah hambatan untuk mempelajari Al-Qur'an dan ilmu agama.
Keberadaan TPQ Assakinah juga membawa harapan bagi para orang tua. Salah satunya, Lis Kurnia Dewi, yang mengaku bersyukur karena anaknya kini mulai mampu mengenal dan membaca Al-Qur'an. "Kami sangat bersyukur dengan adanya TPQ Assakinah Teman Tuli ini, karena sangat membantu pemahaman anak saya yang awalnya tidak bisa mengaji. Sekarang sudah tahu membaca Al-Qur'an meski belum sempurna. Harapannya TPQ ini ada terus," ujarnya.
Melalui kolaborasi relawan, keluarga, dan komunitas tuli, TPQ Assakinah terus membuktikan bahwa pendidikan Islam dapat diakses oleh semua kalangan tanpa terkecuali.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....