Tiyo Ardianto: Mahasiswa Harus Kedepankan Kritik yang Objektif

  • 13 Jun 2026 14:30 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Presiden Mahasiswa BEM Universitas Gadjah Mada (UGM) 2025, Tiyo Ardianto mengatakan mahasiswa harus mengedepankan kritik yang objektif dibandingkan kebencian. Sebab, kritik merupakan bagian penting dalam mengawal kebijakan publik, sementara ujaran kebencian justru dapat menghilangkan objektivitas.

Hal itu diungkapkannya dalam Seminar Hak Asasi Manusia (HAM) di Universitas Semarang (USM) pada Kamis 11 Juni 2026. Seminar tersebut mengangkat tema ''HAM di Era Digital: Peran Mahasiswa dalam Menjaga Kebebasan yang Bertanggung Jawab''.

''Mahasiswa harus fokus pada kritik, bukan pada kebencian. Mari bicara tentang objektivitas dan kritik terhadap kebijakan publik. Jika suatu saat menyentuh aspek yang bersifat personal, lakukan secara bertanggung jawab, penuh perhitungan, dan strategis,'' katanya.

Selain berpikir kritis, kata Tiyo, keberanian menjadi faktor penting agar kebebasan berekspresi memiliki makna. Dia menekankan pentingnya kesadaran mahasiswa terhadap kebebasan yang dimiliki sebagai dasar dalam menjalankan hak berekspresi secara bertanggung jawab.

''Setiap mahasiswa harus menyadari kebebasannya. Setelah menyadari kebebasan itu, maka kebebasan tersebut harus dimanfaatkan sebaik-baiknya dengan penuh tanggung jawab,'' ujarnya.

Menurutnya, perkembangan teknologi dan media sosial telah menciptakan arus informasi yang sangat besar. Sehingga mahasiswa dituntut memiliki kemampuan berpikir kritis agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi palsu maupun ujaran kebencian.

''Hari ini kita berhadapan dengan situasi di mana informasi terlalu banyak dan tidak semuanya terverifikasi. Yang dibutuhkan adalah berpikir kritis. Dengan berpikir kritis, kita tidak akan mudah terjebak pada kebohongan, informasi palsu, maupun ujaran kebencian,'' jelasnya.

Dia berharap, para peserta seminar mampu menjadi generasi yang lebih berani dalam menyampaikan pendapat dan memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan. “Kita semua mungkin bebas, tetapi tanpa keberanian, kebebasan itu menjadi hampa dan tanpa makna,'' ujarnya.

Selain mengahdirkan Tiyo Ardianto, seminar juga menghadirkan narasumber Amnesty International Indonesia, yakni Claudia Destianira dan Michelle Dionisius. Ketua Pelaksana Seminar HAM, Hapsari Okta mengatakan, tujuan kegiatan memberikan pembekalan kepada generasi muda mengenai hak asasi manusia, khususnya dalam menghadapi tantangan era digital.

''Peserta seminar berasal dari SMA di Kota Semarang dan mahasiswa Universitas Semarang dengan jumlah sekitar 150 peserta. Harapannya, seminar ini dapat memberikan pembekalan kepada peserta mengenai HAM, media, serta berbagai lingkup yang berkaitan dengan hak asasi manusia,'' harapnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....