Stafsus dan Staf Ahli Menag Tekankan Kampus Tingkatkan Kualitas Informasi Publik
- 06 Jun 2026 15:56 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang mendapat suntikan strategi baru dari Kemenag RI. Kehadiran Staf Khusus (Stafsus) dan Staf Ahli Menteri Agama RI dalam acara "Peningkatan Pelayanan Informasi di PTKIN, Mewujudkan Kampus Informatif" pada 5 Juni 2026 menjadi momen penting bagi arah kebijakan komunikasi publik kampus.
Rektor UIN Walisongo, Prof. Dr. Musahadi, M.Ag mengatakan pandangan dan arahan dari Stafsus dan Staf Ahli merupakan berkah sekaligus komitmen nyata pusat. Pandangan tersbeut untuk mendorong UIN Walisongo bersaing di level tertinggi.
"Tentu kita sangat khusnuzon, sebagaimana kata Rasulullah, tamu itu selalu membawa berkah. Terima kasih atas kehadiran Stafsus dan Staf Ahli. Semoga semua ini bagian dari komitmen untuk mengembangkan institusi kita," ujarnya.
Ia juga memompa semangat seluruh jajarannya agar optimis menatap persaingan antar-perguruan tinggi yang semakin ketat. "Universitas saat ini luar biasa bersaing, kalau kita tidak punya strategi yang bagus, kita akan kalah saing," tegasnya.
Staf Khusus Menteri Agama RI, Dr. Ismail Cawidu, M.Si mengungkapkan hal unik saat menguji responsivitas dan rekam jejak digital rektor baru. Rektir yang belum genap tiga bulan memimpin tersebut menggunakan kecerdasan buatan (AI).
Ia menekankann salah satu indikator utama keberhasilan kepemimpinan universitas sangat penting mempertahankan predikat Kampus Informatif. Ismail mengingatkan bahwa keterlibatan langsung Rektor dalam penilaian, khususnya pada sesi wawancara, akan menjadi poin penentu yang krusial.
"UIN Walisongo Semarang merupakan kampus informatif. Salah satu indikator keberhasilan rektor adalah kampusnya sudah meraih predikat informatif atau belum. Usahakan predikat informatif ini dipertahankan tahun ini dan tahun-tahun ke depan," ujarnya. .
Sementara itu, Staf Ahli Bidang Hubungan Kelembagaan Keagamaan Kemenag, Prof. Dr. Iswandi Syahputra, S.Ag., M.Si mengungkpkan tantangan berat yang dihadapi dunia kehumasan PTKIN di era digital saat ini. Ia menyoroti fenomena era post-truth dan maraknya para "clipper creator"—pihak-pihak yang sengaja memotong video atau informasi demi memanipulasi algoritma media sosial dan mencari keuntungan komersial tanpa memedulikan konteks yang utuh.
“Isu keagamaan adalah komoditas yang sangat sensitif dan paling mudah menarik perhatian audiens digital. Oleh karena itu, tantangan asimetris ini tidak bisa lagi dihadapi dengan manajemen informasi yang konvensional,:” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya penguatan literasi digital dan pengelolaan informasi publik yang cerdas, transparan, namun tetap penuh kehati-hatian. Terutama yang menyangkut masalah tata kelola keuangan serta administrasi lembaga agar tidak menjadi bola liar di media sosial.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....