Marak Modus Phishing, Indodax Dorong Kebiasaan Verifikasi Informasi
- 04 Jun 2026 14:57 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang – Maraknya modus phishing dan penipuan digital mendorong perusahaan jual beli kripto, Indodax untuk terus mengedukasi masyarakat agar lebih waspada saat mengakses layanan digital. Langkah tersebut dilakukan seiring meningkatnya kasus kejahatan siber yang kini lebih banyak menyasar pengguna dibanding sistem teknologi.
Berdasarkan data Tiger Research, social engineering menjadi penyebab 74,7 persen total kerugian akibat kejahatan siber pada industri Web3 selama kuartal pertama 2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di level 64,3 persen.
Modus yang digunakan pelaku kejahatan siber pun semakin beragam. Mulai dari phishing, layanan pelanggan palsu, situs dan nomor telepon tiruan, hingga tautan berbahaya yang menyerupai kanal resmi dan muncul di hasil pencarian internet.
Sementara itu, data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menunjukkan Indonesia menghadapi sekitar 5,5 miliar serangan siber sepanjang 2025. Jumlah tersebut meningkat tujuh kali lipat dibandingkan rata-rata tahunan pada periode 2020–2024.
Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) mencatat total kerugian akibat penipuan transaksi keuangan mencapai Rp9,1 triliun sejak 2024 hingga Januari 2026. Kondisi ini menunjukkan pentingnya peningkatan kesadaran masyarakat terhadap keamanan digital.
Merespons situasi tersebut, Indodax memperkuat kampanye anti-phishing. Masyarakat diminta lebih kritis dalam memverifikasi informasi sebelum mengakses layanan digital maupun menghubungi layanan pelanggan.
CEO Indodax, William Sutanto, mengatakan pola kejahatan siber saat ini mengalami pergeseran. Jika sebelumnya pelaku berupaya membobol sistem teknologi yang kompleks, kini mereka lebih banyak memanfaatkan kelengahan pengguna untuk memperoleh akses terhadap akun dan informasi pribadi.
"Saat ini pelaku kejahatan tidak selalu berusaha membobol sistem yang kompleks. Mereka justru mencari cara yang lebih mudah, yaitu memanipulasi pengguna agar secara sukarela memberikan akses akun, kode OTP, atau informasi pribadi melalui tautan maupun nomor palsu," ujar William, Kamis, 4 Juni 2026.
Menurutnya, literasi keamanan digital perlu menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari masyarakat. Salah satu modus yang semakin sering ditemukan adalah penyalahgunaan mesin pencari untuk menampilkan nomor layanan pelanggan palsu, situs tiruan, maupun tautan berbahaya yang menyerupai kanal resmi perusahaan.
"Banyak korban merasa aman karena menemukan informasi tersebut melalui mesin pencari. Padahal posisi teratas di hasil pencarian tidak selalu menjamin keaslian suatu informasi," katanya.
Indodax mengimbau masyarakat untuk tidak hanya mencari informasi, tetapi juga melakukan verifikasi sebelum mengambil tindakan. Pengguna disarankan selalu mengakses situs resmi dan memanfaatkan kanal komunikasi resmi yang telah disediakan.
Selain itu, masyarakat diminta tidak langsung mempercayai nomor telepon maupun tautan yang muncul di hasil pencarian internet tanpa melakukan pengecekan terlebih dahulu. Langkah sederhana tersebut dinilai penting untuk menghindari berbagai modus penipuan digital yang terus berkembang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....