Komunikasi Gender Jadi Bekal Pelajar Membangun Ruang Aman di Sekolah

  • 04 Jun 2026 08:49 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Semarang (USM) menggelar sosialisasi bertema komunikasi gender di SMK Negeri 2 Semarang. Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman pelajar tentang pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan saling menghargai.

Sosialisasi bertajuk "Ruang Aman untuk Semua" itu merupakan implementasi mata kuliah Komunikasi Gender dan Minoritas yang diampu Retno Manuhoro Setyowati, S.Sos., M.I.Kom. Kegiatan diikuti siswa kelas X Jurusan Usaha Layanan Pariwisata (ULP) dengan mengusung tagline "Saling Rangkul, Bukan Saling Sikut: Wujudkan Ruang Aman Bersama".

Ketua panitia, Wiku Dwi Aji Pramono, mengatakan kegiatan tersebut dirancang untuk membangun kesadaran pelajar mengenai pentingnya komunikasi yang sehat dan saling menghormati. Menurutnya, lingkungan sekolah harus menjadi ruang yang mendukung perkembangan setiap siswa tanpa diskriminasi maupun perundungan.

"Tujuan kegiatan untuk meningkatkan pemahaman peserta mengenai pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan suportif. Bebas dari perilaku diskriminasi maupun perundungan sosial," katanya dalam keterangan tertulis, Kamis, 4 Juni 2026.

Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan materi mengenai konsep safe space atau ruang aman. Materi disampaikan oleh Praja Adi Dharma yang menjelaskan pentingnya membangun lingkungan yang menghargai keberagaman dan perbedaan.

Menurut Praja, ruang aman bukan berarti semua orang harus memiliki pandangan yang sama. Namun, setiap individu perlu belajar menghormati pendapat dan keberadaan orang lain tanpa melakukan tindakan yang merugikan.

"Ruang aman bukan berarti semua orang harus selalu setuju satu sama lain, tetapi bagaimana kita bisa saling menghargai tanpa menjatuhkan. Lingkungan sekolah seharusnya menjadi tempat yang membuat siswa merasa nyaman untuk berkembang dan menjadi diri sendiri tanpa takut dikucilkan," katanya.

Untuk memperkuat pemahaman peserta, kegiatan diawali dengan pemutaran film pendek yang mengangkat isu pertemanan dan pengucilan sosial di kalangan remaja. Film tersebut menjadi media refleksi bagi siswa untuk memahami dampak perilaku diskriminatif dalam kehidupan sehari-hari.

Setelah menyaksikan film, peserta diminta menuliskan pandangan, perasaan, serta pelajaran yang diperoleh melalui lembar refleksi yang telah disediakan. Hasil refleksi tersebut kemudian dibahas bersama dalam sesi diskusi interaktif.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa USM berharap para pelajar semakin memahami pentingnya komunikasi yang inklusif dan saling menghormati. Kesadaran tersebut diharapkan dapat mendorong terciptanya lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan mendukung perkembangan seluruh siswa.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....