DKV In Frame, Pelajar Ditantang Jadi Sutradara Lewat Kompetisi Film Pendek
- 29 Mei 2026 11:54 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang – Tak sekadar menonton film, pelajar SMA dan SMK dari berbagai daerah ditantang menjadi sutradara melalui kompetisi film pendek DKV in Frame (DiF). Ajang yang digelar Program Studi Desain Komunikasi Visual Soegijapranata Catholic University itu berlangsung pada Februari hingga Mei 2026.
Peserta kompetisi berasal dari berbagai kota di Indonesia, mulai Semarang, Tegal, hingga Jakarta. Selain film pendek, panitia juga menggelar lomba poster film.
Tiga finalis terpilih mendapat kesempatan menampilkan karya mereka di Teater Fransiskus Assisi, Kampus 1 Soegijapranata Catholic University BSB. Kegiatan nonton bareng turut diikuti mahasiswa DKV dan peserta dari berbagai sekolah.
Finalis lomba berasal dari SMK Santa Maria Jakarta, SMKN 4 Semarang, dan SMA Pius Tegal. Ketiganya menampilkan film berjudul Pravaha, Aku Siapa?, dan Paradox.
Mengusung tema “Ruang Antara”, peserta diminta membuat film pendek berdurasi tujuh hingga 15 menit. Film tersebut mengangkat perjalanan siswa menuju dunia perkuliahan.
Koordinator DiF, Louis Cahyo Kumolo Buntaran, mengatakan kompetisi digelar untuk mendorong minat pelajar di dunia perfilman. Potensi kreativitas pelajar dinilai besar karena dekat dengan teknologi dan perangkat kreatif.
“Kami menyelenggarakan roadshow di sejumlah kota dan melihat potensinya yang besar di kalangan teman-teman SMA/K. Apalagi sekarang mereka sangat dimudahkan karena lebih dekat dengan teknologi dan tools kreatif,” ujarnya melalui keterangan tertulis, Jumat, 29 Mei 2026.
Menurut Louis, roadshow tidak hanya bertujuan mengenalkan kompetisi kepada sekolah. Pelajar juga diajak memahami proses produksi film yang melibatkan kreativitas dan kerja sama tim.
Peserta turut ditantang memasukkan produk sponsor ke dalam cerita secara soft selling. Penilaian mencakup kemampuan mengelola unsur promosi tanpa mengganggu alur cerita.
“Kami ingin para peserta belajar bahwa membuat film itu juga membutuhkan anggaran dan kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk sponsor. Karena itu cara memasukkan brand ke dalam cerita tanpa terasa hard selling juga menjadi penting dalam penilaian kami,” imbuhnya.
Penilaian lomba dilakukan berdasarkan konsep cerita, kreativitas, originalitas, serta kualitas visual dan audio. Peserta juga diperbolehkan menggunakan teknologi berbasis Artificial Intelligence (AI) maksimal 10 persen.
Louis menjelaskan penggunaan AI diperbolehkan untuk mendukung ide kreatif, membuat storyboard, hingga proses penyuntingan. Namun, unsur kreativitas utama tetap harus berasal dari peserta.
Tahun ini, penyelenggaraan DiF bertepatan dengan Dies Natalis ke-18 DKV Soegijapranata Catholic University. Awalnya, kegiatan tersebut hanya diperuntukkan bagi mahasiswa baru sebagai bagian pembelajaran.
“Pada awal masa studi, mahasiswa diminta untuk membuat proyek film pendek sebagai bentuk pembelajaran. Agar mahasiswa belajar manajemen untuk menghasilkan sebuah karya, mulai dari mengelola sumber dayanya hingga ke detail pembagian tugasnya,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....