GFC Unnes - RIT Sekar Sari Teliti Koro Pedang, Makanan Olahan Jadi Peluang Bisnis

  • 11 Mei 2026 02:50 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Tanaman Koro Pedang ternyata bisa diolah menjadi berbagai produk pangan dengan nilai jual yang lebih tinggi, seperti tempe, susu, dan makanan olahan kaleng seperti bacem. Bila dimanfaatkan dengan baik, Koro Pedang ini memiliki peluang bisnis yang cukup menjanjikan, karena masih jarang dikenal sehingga punya nilai unik dan daya saing tersendiri.

Hal itu diungkapkan Ketua Genuine Fermentation Club (GFC) FMIPA Universitas Negeri Semarang (Unnes), Adelia usai melakukan kunjungan ke Oemah Koro di Desa Sendangijo, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, Sabtu, 9 Mei 2026. "Jika dipasarkan dengan inovasi, branding, dan edukasi yang baik kepada masyarakat, peluang usaha berbasis Koro Pedang bisa berkembang luas, bahkan berpotensi masuk pasar internasional seperti yang telah dilakukan Oemah Koro Wonogiri," ujarnya, Minggu, 10 Mei 2026.

Ia menyampaikan pendapatnya tentang , makanan olahan yang dibuat mitra binaan Oemah Koro ini memiliki cita rasa enak dan mudah diterima masyarakat. Dari segi warnanya, produk olahannya cukup menarik dan khas.

"Seperti tempe Koro ini teksturnya cukup baik dan nyaman dikonsumsi, olahan susunya juga aromanya tidak terlalu menyengat, sehingga lebih menarik bagi konsumen," jelasnya. Aspek-aspek tersebut perlu diperhatikan, supaya produk olahan Koro Pedang jadi pangan berkualitas dan punya nilai jual," ungkapnya.

Pihaknya merasa senang bisa berkunjung ke Oemah Koro Wonogiri, karena mendapatkan banyak manfaat dan pengalaman baru. Terutama terkait pengolahan serta pengembangan koro pedang yang ternyata memiliki potensi besar.

"Dari kunjungan tersebut, GFC bisa mendapatkan wawasan mengenai inovasi produk, dan strategi pengenalan pangan lokal. Hingga cara membangun usaha berbasis potensi daerah. Harapannya ke depan, ilmu yang didapat bisa dikembangkan lagi, baik dalam bentuk edukasi, inovasi produk maupun pemasaran," jelasnya.

Pada kunjungan tersebut, rombongan mahasiswa GFC Unnes dipimpin oleh Peneliti RIT SS dan Guru Besar Bioteknologi Unnes Prof. Siti Harnina didampingi dosen Biologi, FMIPA Unnes Dra Ely Rudyatmi MSi. Mereka disambut pengelola Oemah Koro Ketty yang tanaman Koro Pedang miliknya ditanam di kawasan Bimardi Farm and Park, Desa Sendangijo.

Menurut Harnina, hasil kunjungannya ke Oemah Koro ini, GFC Unnes dan Rumah Inovasi Tempe (RIT) Sekar Sari di Gunungpati, Semarang akan ditindaklanjuti dengan rencana kegiatan pengabdian kepada masyarakat. "Kami akan melakukan riset yang orientasinya budidaya, serta bisa digabung jadi satu dengan proses pengolahan produk yang dihasilkannya," ungkapnya.

Pihaknya juga meminta kepada mahasiswa untuk menyosialisasikan Koro Pedang yang ternyata bisa jadi bahan makanan olahan yang punya nilai jual. Hasil kunjungan ke Oemah Koro Wonogiri juga diminta disiarkan ke media sosial, seperti Instagram dan YouTube.

"Mahasiswa juga dapat mensosialisasi Tanaman Koro Pedang saat Giat di Lapangan, mengenalkan Koro Pedang yang diolah jadi tempe. Jadi, masyarakat supaya mengetahui bahwa tempe itu tidak mesti terbuat dari bahan kedelai," ungkapnya.

Selain Oemah Koro, mahasiswa GFC juga diajak ke tempat usaha Tempe Keripik Gajahmungkur di Desa Josari RT2/RW 8 Desa Pare, Kecamatan Selogiri. Lokasi usaha itu merupakan mitra binaan Ketty yang menjual keripik tempe dari bahan berbeda-beda yaitu Koro Pedang, kedelai, dan koro benguk.

Pekerja tempe keripik, Ny Niti (58) mengatakan, rumah produksi ini mampu menghasilkan produk mulai 20-30 kg setiap harinya. "Harga jual tempe keripik dari bahan-bahan tersebut mulai Rp5 ribu/ bungkus hingga Rp23 ribu/ bungkusnya," ujarnya.

Menurut dia, produksi tempe keripik Koro Pedang lebih lama, karena harus direndam dulu selama tiga hari untuk menghilangkan sianida-nya. Maksimal bisa sampai tujuh hari, dari mulai proses fermentasi hingga penggorengan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....