Kunjungi Oemah Koro Wonogiri, GFC Unnes - RITSS Ingin Kembangkan Tempe Nonkedelai

  • 10 Mei 2026 18:45 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Wonogiri - Sebanyak 26 mahasiswa Genuine Fermentation Club (GFC) Universitas Negeri Semarang (Unnes) melakukan kunjungan ke Rumah Koro Pedang di Desa Sendangijo, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, Sabtu, 9 Mei 2026. Rumah Inovasi Tempe (RIT) Sekar Sari bersama GFC Kelompok studi di bawah naungan Himpunan Mahasiswa (Hima) Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), akan mengembangkan bahan lokal berupa tanaman koro pedang untuk dijadikan pembuatan tempe.

"Pembuatan tempe dari bahan non kedelai yakni koro pedang ini suatu keniscayaan, karena harga kedelai import yang mengalami kenaikan. Setiap pemerhati atau pakar tempe selalu mengarahkan pembuatan produk dari bahan lain, karena kedelai diperoleh secara impor dengan harga mahal," ujar Guru Besar Ilmu Bioteknologi FMIPA Unnes Prof Dr Siti Harnina Bintari yang memimpin rombongan mahasiswa GFC di Rumah Koro Pedang.

Pihaknya melihat Rumah Koro Pedang Wonogiri yang dikelola Sukesti Nuswantari ini tidak hanya mampu memroduksi tempe Koro Pedang. Namun, ada juga produk olahannya seperti keripik tempe, susu, makanan olahan kaleng berupa bacem, dan sambal.

"Ini bisa jadi lahan bisnis, karena potensinya cukup baik. Ketika sudah ada tempatnya, perlu melakukan inovasi pembuatan tempe bahan baku Koro Pedang secara masif dan intensif," kata dosen Bioteknologi pada Prodi Biologi FMIPA Unnes tersebut.

Menurut dia, RIT Sekar Sari di Gang Kedawung V, Kelurahan Patemon, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang yang dikelolanya bisa menjadi laboratorium tempat praktik untuk produksi tempe non kedelai ini beserta olahannya. Melalui kunjungan ini, mahasiswa GFC diharapkan bisa bertambah wawasan dan mereka juga bisa melakukan riset budidaya dan proses fermentasinya yang belum banyak dibudidayakan petani.

"Riset pertama yang dikembangkan ialah budidaya Koro Pedang, sedangkan riset selanjutnya pengolahan tempe Koro Pedang jadi banyak produk," ungkapnya. Harnina dalam kunjungannya itu juga didampingi dosen jurusan Biologi, FMIPA Unnes Dra Ely Rudyatmi MSi.

Rombongan disambut Sukesti, yang kemudian diajak menyaksikan lokasi tanaman Koro Pedang di kawasan Bimardi Farm and Park, Desa Sendangijo. Bahkan, mahasiswa Unnes juga ikut memanen Koro Pedang yang kulit tanamannya sudah berwarna kecoklatan, dan bijinya berwarna putih menyerupai kacang hijau tapi lebih besar.

Sukesti menuturkan, Koro Pedang (Canavalia Ensiformis) adalah tanaman kacang-kacangan perdu merambat yang populer sebagai alternatif kedelai, tahan lahan margnial/ tandus, dan tinggi proteinnya. Tanaman ini memiliki polong berbentuk seperti pedang, biji Koro inilah yang diolah jadi tempe, kecap, atau camilan.

Adapun, awal proses pengolahannya dilakukan variadi perendaman dan pemanasan, diawali dng perendaman semalam, direbus dan direndam selama tiga hari tiga malam, untuk menghilangkan sianidanya. Produk olahan Koro Pedang ini bisa menjadi alternatif oleh-oleh warga Wonogiri untuk dibawa ke tempat perantauannya.

"Kabupaten Wonogiri terkenal dengan kacang mete-nya tapi harganya mahal Rp 180 ribu perkilogram. Kalau orang Wonogiri mau balik ke Jakarta misalnya, dengan oleh-oleh kacang mete tentu akan menghabiskan banyak uang, tapi kalau dengan keripik Koro Pedang, bisa jadi Rp500 ribu sudah cukup buat oleh-oleh warga satu kampung," jelasnya.

Meski demikian, pihaknya mengatakan, perjuangannya mempopulerkan Karo Pedang ini tak semudah membalikkan telapak tangan. Ia harus dilewati perjalanan penuh drama, karena ditipu orang yang mengiming-imingi memenuhi permintaan ekspor Koro Pedang ke Jepang.

"Saat itu ada yang janji, kalau bisa tanam Koro Pedang usia dua bulan, mau diekspor ke Jepang. Saya semangat kumpulkan kelompok tani di Wonogiri, hingga terkumpul 50 hektare lahan tanaman Koro Pedang, tapi saat dipanen orang yang menawari ekspor itu malah menghilang," ungkapnya.

Kondisi demikian membuatnya sempat bingung, karena dirinya terus ditagih dan menjadi sasaran kemarahan petani yang telah memanen Koro Pedang. Hasil panen petani itu akhirnya dibeli untuk membuat hati mereka lega, padahal dirinya sendiri belum tahu mau dikemanakan Koro Pedang tersebut.

"Sampai akhirnya saya bertemu dengan Komunitas Asosiasi Koro Pedang Nasional (AKPN-red), ternyata memang Koro Pedang itu bisa dibuat makanan olahan. Bahkan, di Yogyakarta ada yang produksi tempe keripik hingga 25 kilogram seharinya, ada juga untuk campuran abon," jelasnya.

Kini, Sukesti fokus mendidik warga Wonogiri untuk menjadi wirausaha dengan bahan Koro Pedang, lewat tempe keripik, susu, dan makanan olahan bacem kemasan kaleng. "Kami mengadakan pelatihan kewirausahaan bagi warga secara gratis, tidak berbayar. Hasilnya luar biasa, alumninya yang kini berjumlah 40 orang bisa menjadi pengusaha dadakan, jadi bakul tempe," ungkap wanita yang meraih sertifikat pendamping UMKM tingkat Asia tersebut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....